Kamis, 12 Februari 2015

STUDI KASUS (KOMPAS, 4 JANUARI 2013): PENAMBANGAN MANGAN OLEH PT RAKSHA INTERNATIONAL MINING DI DESA LANTE, KEC. REOK BARAT, KAB. MANGGARAI, NTT



Kronologi
PT RIM merupakan perusahaan pertambangan mangan di desa Lante, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur yang mulai beroperasi sejak September 2012. Proses eksploitasi telah menghasilkan sekitar 7000 ton mineral galian yang diangkut sejak 18 Oktober sampai 1 Desember 2012 (Kompas, 4 Januari 2013). Akan tetapi proses eksploitasi dan produksi perusahaan berhenti menjelang akhir desember lalu karena adanya konflik yang terjadi antara warga dan perusahaan terkait kerusakan lingkungan yang terjadi (Kompas, 7 Januari 2013). Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah bahaya longsor. Hal ini berdampak pada pertanian yang berada di daerah tersebut.

Pembahasan
            Dalam rangka mewujudkan kebijakan pelestarian lingkungan, upaya yang harus dilakukan di sektor pertanian untuk mengurangi dampak negatif kerusakan longsor akibat penambangan mangan adalah menumbuhkan kesadaran dan perubahan pola pikir (mind set) pelaku industri untuk menerapkan kaidah konservasi tanah dan air pada lahan-lahan kritis akibat proses penambangan. Untuk mendapatkan hasil kegiatan yang optimal sehingga lahan kritis dapat berfungsi kembali sebagai unsur produksi, siklus hidrologi, maupun perlindungan alam dan lingkungannya, maka upaya konservasi lahan diharapkan mampu mengembalikan fungsi lahan seperti semula.
Pada dasarnya konservasi tanah dan air dilakukan agar energi perusak (butir air hujan dan aliran permukaan) sekecil mungkin tidak merusak, dan agregat tanah lebih tahan terhadap pukulan butir air hujan dan aliran permukaan.
Morgan (1979) membagi tiga pendekatan dalam metode konservasi tanah dan air sebagai berikut :
1.        Memperbaiki dan menjaga tanah agar tahan terhadap penghancuran dan pengangkutan, serta lebih besar daya menyerap airnya.
2.        Menutup tanah dengan tanaman atau sisa tumbuhan agar terlindung dari butir air hujan.
3.        Mengatur aliran permukaan sehinggs kekuatan aliran tidak merusak.
Sehubungan deangan hal tersebut diatas, maka strategi konservasi tanah dan air dapat dibagi atas 3 metode utama yaitu :
a. Metode konservasi tanah dan air secara vegetatif
b. Metode konservasi tanah secara fisik / mekanis
c. Metode konservasi tanah dan air secara kimiawi
a. Metode konservasi tanah dan air secara vegetatif
Metode konservasi secara vegetatif adalah pengelolaan tanaman sedemikian rupa sehingga sehingga dapat menekan laju erosi dan aliran permukaan. Tumbuhan dapat menekan aliran permukaan dan memperkecil erosi dengan alasan sebagai berikut :
a.    Pengurangan pukulan butir air hujan terhadap permukaan tanah akibat ter-insepsinya butir air hujan oleh tajuk tanaman.
b.    Pengurangan kecepatan aliran permukaan sebagai akibat meningkatnya kekasaran permukaan tanah
c.    Peningkatan agregasi dan porositasnya tanah akibat aktifitas akar tumbuhan, dan penambahan bahan organik sehingga laju infiltrasi air meningkat.
d.   Peningkatan kehilangan air tanah akibat evapotranspirasi, sehingga tanah cepat kering.
Adapun yang termasuk dalam metode konservasi tanah dan air secara vegetatif adalah sebagai berikut :
1. Penanaman dengan tanaman penutup tanah (Permanent Plant Cover)
2. Reboisasi & Sistem pertanian hutan (Agroforestry).
1. Tanaman Penutup Tanah (Permanent Plant Cover)
Tanaman penutup tanah dapat ditanam tersendiri sewaktu lahan tidak ditanami tanaman pokok, atau ditanam secara bersama-sama dengan tanaman pokok sebagai penutup tanah dibawah tanaman pokok, atau bahkan sebagai pelindung tanaman pokok. Semua tumbuhan / tanaman dapat menutup tanah dengan baik, tetapi yang dimaksudkan dalam konservasi tanah dan air sebagai tanaman penutup tanah adalah tanaman yang memang sengaja ditanam untuk menambah kesuburan tanah, meningkatkan produktifitas tanah dan melindungi tanah dari erosi.
Berdasarkan habitusnya tanaman penutup tanah dapat dikelompokkan
atas 4 golongan yaitu :
a. Tanaman penutup tanah rendah
b. Tanaman penutup tanah sedang
c. Tanaman penutup tanah tinggi
d. Belukar alami dan tumbuhan yang tidak kurang disukai.
a. Tanaman Penutup Tanah Rendah
Tanaman penutup tanah rendah merupakan tanaman yang mempunyai tajuk yang berada di dekat permukaan tanah, termasuk tanaman rumputrumputan, menjalar dan yang beroset akar. Tanaman ini kemudian dikelompokkan lagi berdasarkan atas sistem pola pertanamannya yaitu :
a. Yang ditanam dengan pola pertanaman rapat, contohnya : Centrosema, Colopogonium, Mimosa dll
b. Yang ditanam dengan pola pertanaman barisan, contohnya : Ageratum Euphatorium, Salvia, dll
c. Yang ditanam dengan pola pertanaman untuk perlindungan teras & saluran air, contoh : Alternanthera, Oxalis, Indigofera, Ageratum, Erechites, Borreria dll
b. Tanaman Penutup Tanah Sedang
Jenis tanaman ini mempunyai tajuk tanaman berada di atas permukaan tanah, walaupun ketinggiannya relatif rendah. Tanaman ini kemudian dikelompokkan berdasarkan atas sistem pola perta-namannya yaitu :
a. Yang ditanam dengan pola pertanaman teratur, diantara tanaman pokok., contohnya : Clibadium, Euphatorium dll
b. Yang ditanam dengan pola pertanaman pagar, contohnya : Desmonium Lantana, Crotalaria, Tephrosia, dll.
c. Yang ditanam dengan pola pertanaman diluar areal tanaman pokok yang difungsikan sebagai sumber bahan organik, untuk penghutanan kembali atau penguat tebing atau teras, contohnya : Graphophyllum, Leucaena, Tithonia, Cordyline, dll
d. Tanaman Penutup Tanah Tinggi
Jenis tanaman ini mempunyai tajuk yang letaknya relatif tinggi dari permukaan tanah. Tanaman ini kemudian dikelompokkan lagi berdasarkan atas sistem pola pertanamannya yaitu :
a. Yang ditanam dengan pola pertanaman teratur, diantara tanaman pokok, contohnya : Albizzia, Grevilles, Pithecellobium, Erythrina spp, Gliricidia dll.
b. Yang ditanam dengan pola pertanaman barisan, contohnya : Leucaena dll
c. Yang ditanam dengan pola pertanaman untuk melindungi jurang, tebing dan usaha reboisasi, contohnya : Albizzia, Leucaena, Acasia, Eucalyptus, Chinchona, Gigantochloa, Dendrocalamus, Bambusa.
Belukar Alami dan Tumbuhan Yang Kurang Disukai Umumnya tumbuhan yang termasuk golongan ini merupakan tumbuhan atau tanaman pengganggu tetapi berfungsi sebagai tumbuhan / tanaman penutup tanah dan pelindung tanah terhadap bahaya erosi.
Contohnya : Imperata, Panicum, Leersia, Saccharum, Anastropus, Paspalum dll
2. Reboisasi & Agroforestry
Reboisasi (penghutanan kembali) secara luas dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memulihkan dan menghutankan kembali tanah yang mengalami kerusakan fisik, kimia dan biologis baik secara alami maupun akibat ulah manusia. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara penanaman kembali tumbuhan di bekas areal hutan, agar tanah hutan kembali seperti semula, sehingga kebutuhan akan hutan dan fungsi hutan dapat dipenuhi, baik untuk keperluan produksi atau untuk pengaturan tataguna air dan perlindungan alam dan sosial budaya.
Reboisasi merupakan cara yang cocok untuk menurunkan erosi dan aliran permukaan, terutama jika dilakukan pada bagian hulu sungai di daerah tangkapan air untuk mengatur banjir. Sasaran reboisasi adalah hutan-hutan kritis yaitu lahan yang tidak sesuai dengan penggunaan lahan dengan kemampuan tanahnya, yang mengalami atau berada dalam kerusakan fisik, kimia, biologi sehingga akan membahayakan fungsi hutan. Tanah yang rusak tersebut dapat berupa hutan gundul, belukar, padang ilalang atau tanah terlantar lainnya.
Tumbuhan yang digunakan biasanya tumbuhan yang dapat mencegah erosi, baik dari segi habitus maupun umur, diutamakan tanaman keras yang bernilai ekonomis, baik kayunya maupun hasil sampingan lainnya. Dalam kaitannya dengan usaha konservasi, tanaman yang dipilih hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Mempunyai sistem perakaran yang kuat, dalam, panjang, kuat dan dan luas, sehingga membentuk jaringan akar yang rapat.
b. Pertumbuhan cepat sehingga mampu menutup tanah dalam waktu singkat.
c. Bersifat pionir, mempunyai sifat evapotranspirasi besar pada daerah dengan curah hujan tinggi dan sebaliknya pada daerah kering.
d. Mempunyai nilai ekonomis, baik kayu maupun hasil sampingan lainnya.
e. Dapat memperbaiki kualitas / kesuburan tanah.
Reboisasi sebaiknya tidak dilakukan dengan hanya menanam satu jenis tumbuhan saja, tetapi disarankan untuk divariasikan dengan beberapa tumbuhan, dan disamping itu masih harus dibutuhkan tanaman penutup tanah. Adapun jenis tumbuhan yang biasa digunakan untuk reboisasi adalah sebagai berikut :
1. Jenis berakar intensif, akar tunjang panjang dan tumbuh cepat di waktu muda
- Balsa Ochroma bicolor Rowlee
- Dingsem Himalium tomentosum Benth
- Madoer Flemingia strobilifera Ait
- Gianti Sesbabia sesban Pers
- Johar Cassiasiamea Lamk
- Kemlandingan Leucaena glauca Linn
- Kitimoho Kleinhoviahospita L
- Luban Vitex pubescens Vahl
- Mindi Melia azedarach L
- Marmoyo Indigofera galigoides D. C.
- Sengon laut Albizzia falcata Backer
- Senu Melochia umbellata O. Stapt
- Teprosia Theprosia sp
- Waru Hibiscus tiliaceus L
- Wungu Lagerstroemia sp
- Ampupu Eucalyptus alba Reinw
2. Jenis berakar intensif, akar tunjang tumbuh cepat dan dalam, pertumbuhan waktu muda kurang cepat.
- Asam Tamarindus indica L
- Kedinding Albizzia lebeckioides Benth
- Kesambi Schleichera oleosa Merr
- Mahoni Swietenia macrophylla King
- Pilang Acacia leucoplea Willd
- Rengas Gluta renghas L
- Sonosiso Dalbergia sissoo Roxb
- Sonokeling Dalbergia latifolia Roxb
- Tekik Albizzia lebeck Benth
- Tajuman Bunhinia malabarica Roxb dan Trengguli Cassia fistula L.
b. Metode konservasi tanah secara fisik / mekanis
1. Pembuatan Teras gulud
Teras gulud adalah guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat dan saluran air pada bagian lereng atasnya. Teras gulud dapat difungsikan sebagai pengendali erosi dan penangkap aliran permukaan dari permukaan bidang olah. Aliran permukaan diresapkan ke dalam tanah di dalam saluran air sedangkan air yang tidak meresap dialirkan ke Saluran Pembuangan Air (SPA).
2. Pembuatan Teras bangku
Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga. Ada 3 jenis teras bangku : datar, miring ke luar, miring ke dalam, dan teras irigasi (lihat gambar). Teras bangku datar adalah teras bangku yang bidang olahnya datar (membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). Teras bangku miring ke luar adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke arah lereng asli, namun kemiringannya sudah berkurang dari kemiringan lereng asli.
Teras bangku miring ke dalam (gulir kampak) adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke arah yang berlawanan dengan lereng asli. Air aliran permukaan dari setiap bidang olah mengalir dari bibir teras ke saluran teras dan terus ke SPA sehingga hampir tidak pernah terjadi pengiriman air aliran permukaan dari satu teras ke teras yang di bawahnya. Teras bangku gulir kampak memerlukan biaya yang mahal karena lebih banyak penggalian bidang olah. Selain itu bagian bidang olah di sekitar saluran teras merupakan bagian yang kurang/tidak subur karena merupakan bagian lapisan tanah bawah (subsoil) yang tersingkap di permukaan tanah. Namun jika dibuat dengan benar, teras bangku gulir kampak sangat efektif mengurangi erosi.Teras irigasi biasanya diterapkan pada lahan sawah,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar