Rabu, 16 Maret 2016

Save Our Lake (Tempe Lake)



Tempe Lake is one of the large lakes located in the province of South Sulawesi, precisely in Wajo ( 70 % ) , Sidrap and Soppeng . The lake is across the 10 districts and 51 villages. High water level ( TMA ) Lake Tempe until 2001 showed that normal conditions, with TMA average in the range of 4.078 m - 7.780 m dpl. The depth of the lake at this time when the rainy season 3 m and 1 m in dry weather. The surface area of the lake during the rainy season is 48,000 ha and flooded paddy fields, plantations, houses, roads and bridges and other social infrastructures which give rise to substantial losses. In the dry season, the lake area is only 1,000 ha, while in normal conditions the extent of reaching 15,000-20,000 ha.
               The land around the lake is used for residential and agricultural areas . Biodiversity Tempe Lake seen from the number of fish species in the lake include: carp (Cyprinus corpio), Tawes fish (osteochillus hassellti), catfish (ophiocephalus striatus), Sepat siam fish (tricogaster pectoralis), Bungo fish (glosogobius guiris), Tambakan fish (Helostoma temmicki), and Tilapia fish (Oreochromis niloticus). In addition to the biodiversity that owned the Tempe Lake , there is also a culture of the local area that can serve as a tourist attraction of the area. When this condition is very alarming Tempe Lake. Tempe lake ecosystem damage can be seen as follows :
1.      Damage Watershed (DTA)
Damage to the headwaters of Lake Tempe caused by uncontrolled logging, including encroachment, shifting cultivation, illegal logging bringing the total number of critical areas Tempe Lake be 308,962.56 ha of total area of ​​830 485 ha. The conversion of catchment areas and pockets of water. Drought, regional catchment area of ​​the lake decreased, so that the water reserves that can be kept dwindling.
2.      Damage Border
The pollution in the waters of Lake Tempe, caused by the discharge of domestic waste, agricultural, residential and the rest of the fish feed. This is the cause of eutrophication of the water surface of the lake.
3.      Water Pollution
The rate of sedimentation in Lake Tempe ie by 1-3 cm per year. As a result of this sedimentation, silting up the lake suffered and caused floods in the rainy season and drought in the dry season. If the sedimentation rate is assumed to be 0.38 cm per year, it is predicted that by 2018 Lake Tempe will disappear in the dry season.
a.       Sedimentation occurred in Lake Tempe naturally caused by sediment carried by the river inlet that empties into the lake like S. Lawo, S. stones, S. Belokka, and the River Nila S. Walannae.
b.      The occurrence of silting decreased the carrying capacity for the lake, provoking flooding in the surrounding area.
c.       Land management that exceed the carrying capacity of the lake. The decline in land productivity.
d.      Increases in population. The decline in water quality

Minggu, 15 November 2015

BIOKOMPOSIT (Pemanfaatan Serat Sabut Kelapa)



 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Negara beriklim tropis seperti Indonesia merupakan penghasil kelapa yang cukup besar. Menurut data Asian and Pasific Coconut Community (APCC) tahun 1997, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia dengan luas areal produksi 3,78 juta hektar serta jumlah produksi 2,58 juta ton. (Taufikkurahman, 1988). Tanaman kelapa di Indonesia pada umumnya merupakan komoditi tradisional yang menyatu dan akrab dengan masyarakat. Menurut Akuba (1990), lebih dari 90 % areal kelapa di Indonesia merupakan perkebunan rakyat. Kontribusi tanaman kelapa Indonesia terhadap perkebunan nasional sekitar 26 %, sedangkan terhadap dunia dan negara-negara anggota APCC masing-masing sekitar 27 % dan 33 % (Arancon, 1999).
Tanaman kelapa di Indonesia menyebar hampir di seluruh wilayah nusantara Data statistik perkebunan nasional menunjukkan bahwa potensi tanaman kelapa terbesar terdapat di Sumatera (1.171.860 ha) dengan sentranya di Propinsi Riau, kemudian diikuti oleh Jawa (881.162 ha), Sulawesi (664.148 ha), Nusa Tenggara (348.164 ha), Maluku dan Irian (275.638 ha), dan Kalimantan (253.485 ha). Berbeda dengan di luar Jawa yang umumnya lokasi perkebunannya terkonsentrasi, tanaman kelapa di Jawa lokasinya menyebar khususnya di sepanjang pantai selatan.
Walaupun kelapa merupakan tumpuan pendapatan bagi masyarakat di daerah-daerah tersebut di atas, tetapi pendapatan petani kelapa di daerah tersebut masih sangat rendah, hal mana karena pemanfaatan potensi kelapanya yang masih belum optimal. Kelapa rakyat pada daerah-daerah tersebut (khususnya di luar Jawa) pada umumnya dimanfaatkan petani untuk dibuat kopra yang selanjutnya dijual ke pabrik penggilingan minyak. Dengan pola pemanfaatan yang selama ini ada, tempurung, sabut, dan air kelapa praktis tidak termanfaatkan secara maksimal, bahkan cenderung diperlakukan sebagai limbah. Keadaan ini terutama banyak dijumpai di sentra-sentra produksi luar jawa Padahal dengan sentuhan teknologi, bagian-bagian dari kelapa tersebut dapat dimanfaatkan untuk bahan baku industri yang produknya mampu berkompetisi di pasar domestik maupun internasional, sehingga kalau hal ini berjalan dengan baik, maka pendapatan petani kelapa akan meningkat.
Salah satu bentuk industri yang berpotensi untuk dikembangkan dan sesuai untuk skala kecil sampai menengah adalah pengolahan sabut untuk dijadikan serat dan abu sabut. Di samping prospek pasarnya yang baik, laporan yang disampaikan oleh Rumokoi (1990) menyebutkan bahwa sabut merupakan komponen berat terbesar (38-44%) dari buah kelapa, dibanding dengan komponen lainnya seperti tempurung (21-28%) dan air kelapa (29-35%). Menurut United Coconut Association of the Philippines (UCAP), dari setiap butir kelapa dapat diperoleh sekitar 0,4 kg sabut yang mengandung sekitar 30% serat. Areal tanaman kelapa nasional yang luasnya 3,78 juta hektar, sama artinya dengan kesanggupan Indonesia untuk menyediakan bahan baku industri pengolahan sabut kelapa sekitar 10,4 juta ton per tahun.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.        Bagaimana prospek pasar sabut olahan  limbah sabut kelapa menjadi serat kelapa (coco fiber)?
2.        Proses dan teknologi pengolahan limbah sabut kelapa menjadi serat kelapa (coco fiber)?
3.        Bagaimana strategi pengembangan usaha serat kelapa (coco fiber) berdasarkan analisis ekonomi dan lingkungan di Riau?
1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui prospek pasar sabut olahan  limbah sabut kelapa menjadi serat kelapa (coco fiber).
2.      Mengetahui proses dan teknologi pengolahan limbah sabut kelapa menjadi serat kelapa (coco fiber).
3.      Merumuskan strategi pengembangan limbah sabut kelapa menjadi serat kelapa (coco fiber) berdasarkan beberapa aspek ruang lingkup.
1.4. Ruang Lingkup
Pemanfaatan limbah sabut kelapa menjadi serat kelapa (coco fiber) memerlukan studi mengenai pola pembiayaannya yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut:
1.        Aspek pemasaran yang meliputi antara lain kondisi permintaan (termasuk pasar ekspor), penawaran, persaingan, harga, proyeksi permintaan pasar;
2.        Aspek produksi yang meliputi gambaran komoditi, persyaratan teknis produk,
3.        Aspek keuangan yang meliputi komponen biaya, pendapatan, hambatan dan kendala
4.        Aspek sosial-ekonomi yang meliputi pengaruh pengembangan usaha komoditi yang diteliti terhadap perekonomian, penciptaan lapangan kerja, dan pengaruh terhadap sektor lain;
5.        Aspek dampak lingkungan.

1.5. Manfaat
Manfaat dari tulisan ini adalah :
1.        Sebagai bahan informasi bagi pengusaha serat kelapa (coco fiber) untuk mengembangkan usahanya.
2.        Sebagai bahan informasi bagi masyarakat yang ingin membangun usaha serat kelapa (coco fiber).
3.        Sebagai referensi bagi peneliti lain yang berhubungan dengan penelitian ini













BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1. Prosepek Pasar Serat Sabut Kelapa Olahan (coco fiber)
2.1.1. Jenis dan Kegunaan Produk Serat Sabut Kelapa Olahan (coco fiber)

Produk setengah jadi dari industri pengolahan sabut kelapa adalah serat (coir fibre) dan abu gabus (coir dust). Serat sabut (serabut) kelapa tua ini setelah dicampur dengan bahan lateks dan dipres akan menghasilkan sheet, dimana sheet ini selanjutnya dapat dijadikan bahan baku berbagai industri seperti industri kasur (springbed), jok kendaraan, insulasi dinding bangunan yang berilkim subtropis (peredam panas), peredam suara, matras, dan lain-lain. Di samping itu untuk jenis sabut tertentu seperti sabut yang banyak terdapat di Srilangka, serat sabut yang dihasilkan bentuknya panjang (di atas 15 cm) dan berwarna putih (white coir).
Serat jenis ini sangat baik untuk bahan baku pembuatan benang berkualitas (coir yarn), dan benang yang dihasilkan merupakan bahan dasar pembuatan tali (rope), karpet (rug), atau kain pembersih. Untuk produk jenis bristles fiber dapat diperoleh dengan cara melakukan penyisiran terhadap serat pilihan. Sebagai perbandingan, Trubus (Maret 1999) melaporkan kalau harga ekspor serat asalan (coir fibre) pada awal tahun 1999 sebesar US $ 0.1 per kg, maka harga serat hasil sisiran adalah US$ 1 per kg, sedangkan harga sheet menjadi US$ 5.5 per kg.
Pada beberapa waktu yang lalu, produk industri pengolahan sabut kelapa yang bernilai ekonomi hanya terbatas pada seratnya saja, sedangkan abunya masih dianggap sebagai limbah. Sekarang setelah diketahui pemanfaatan dari abu sabut kelapa, justru abu inilah yang ternyata mempunyai nilai ekonomi tinggi dibanding dengan serat. Abu atau serbuk gabus sabut kelapa (coir dust) dapat dimanfaatkan di antaranya untuk media pupuk organik, pot bunga, pengisi papan, dan media tanam (misalnya untuk campuran media penanaman rumput pada lapangan golf dan lapangan sepakbola di Amerika dan Eropa, serta sebagai media tanam pada teknik budidaya dengan sistem hidroponik). Menurut informasi dari PT. Sukaraja Putra Sejati di Bandung, abu sabut kelapa banyak mengandung unsur Kalium (K) yang dibutuhkan oleh tanaman.
2.1.2 Potensi Pasar Produk Sabut Olahan
Selama ini, produk sabut olahan banyak mendapat saingan dari bahan sintetis. Sesuai dengan Konvensi WINA dan Montreal Protocol, produk sintetis yang dinilai merusak lingkungan ini secara bertahap akan dihapuskan. Di samping itu banyak negara maju yang lebih menyenangi sabut olahan alami karena mempunyai keunggulan karakteristik dibanding bahan lainnya, seperti lebih tahan lama (tidak mudah lapuk), tingkat kelenturannya tinggi, tidak bau, tidak berubah warna, dan tidak mencemari lingkungan (Anonim, 1999). Hal-hal tersebut membuat permintaan serabut olahan dunia belakangan ini cenderung meningkat, yang akhirnya berujung kepada semakin meningkatnya harga produk sabut olahan seperti dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan Harga Serabut dan Produk Serabut Tahun 1992-1996 (US $/MT)
Jenis Produk
1992
1993
1994
1995
1996
Serat pendek
(short fibre)
162
161
193
235
293
Serat panjang
(Bristle fibre)
501
581
532
582
625
Benang/tali
(coir yarn)
574
588
665
683
675
Tikar
( matting /sheet)
1.253
1.365
1.589
1.628
1.783
Sumber : APCC (1996)

Deresiasi nilai rupiah terhadap mata uang asing khususnya dolar Amerika, merupakan pendorong usaha yang cukup menggembirakan bagi masyarakat Indonesia untuk mengekspor produk sabut olahan. Karena itu belakangan ini mulai banyak bermunculan bisnis pengolahan sabut kelapa di Indonesia, baik di Jawa maupun di luar Jawa.
Permintaan produk sabut kelapa olahan justru banyak datang dari luar negeri. Produk-produk utama dari sabut kelpa olahan yang banyak dibutuhkan dunia antara lain coir fibre, coir yarn, coir mats, matting, dan rugs. Menurut data APCC yang dikutip oleh Anonim (1998), permintaan produk sabut olahan dapat diidentifikasi ke dalam tiga kelompok besar seperti disampaikan pada Tabel 2. Pangsa pasar terbesar komoditi sabut olahan adalah Eropa Barat dan Amerika. Untuk coir fibre, permintaan terbesar datang dari Inggris dan Jerman, sedangkan untuk coir yarn pasar terbesarnya adalah Perancis, Amerika, dan Belanda. Kemudian untuk mats, matting, dan rugs, negara-negara yang paling banyak membutuhkan adalah Inggris, Jerman, Itali, dan Perancis. Untuk Asia, negara-negara yang menjadi langganan pasar bagi produk sabut olahan Indonesia adalah Hongkong, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Sedangkan untuk Eropa adalah Inggris, Jerman, dan Belgia (Rahman, 1999).
Pasar sabut kelapa olahan dunia saat ini masih didominasi oleh Srilangka dan India, disusul kemudian oleh Malaysia, Thailand, dan negara-negara Afrika. Indonesia walaupun mempunyai areal tanaman kelapa terluas di dunia, ternyata masih belum berperan banyak dalam meramaikan pasar sabut kelapa olahan dunia. Sebagai perbandingan, pada tahun 1977 Indonesia mengekspor 595 ton serat sabut, sementara India dan Srilangka masing-masing mengekspor 46.223 ton dan 51.973 ton (Taufikkurahman, 1998). Ekspor sabut kelapa olahan yang dilakukan Indonesia sampai saat ini masih berbentuk setengah jadi, yaitu dalam bentuk abu kering (coir dust) dan serat yang sudah dipres (sheet). Karena itu merupakan tantangan bagi investor Indonesia dalam mengisi program nyata pembangunan ekonomi berbasis muatan lokal dan berdaya saing.
Tabel 2. Permintaan Sabut Olahan oleh Pasar Luar dan Dalam Negeri
Pasar Luar Negeri
Volume (Ton)
Industri Dalam Negeri
Volume (Ton)
Negara Eropa

168.400
Industri Springbed
74.854
Amerika
115.600
Industri Jok
Kendaraan
1.800
Asia dll.
130.000
Industri Meubelair
15.376
Sumber : APCC (1996)

2.2. Proses Dan Teknologi Pengolahan Sabut Kelapa

2.2.1. Proses Produksi Serat Kelapa (Coco Fiber)

Bentuk produk dari sabut kelapa yang diolah pada industri ini adalah serat panjang (bristle fibre), serat pendek (short fibre), abu atau gabus lembut (dust). Pada sebagian besar industri, karena jenis glondongan sabutnya sangat bervariasi serta karena keterbatasan peralatan, serat panjang dan serat pendek biasanya tidak bisa dipisahkan, kecuali ada perlakuan khusus (penyisiran). Pada peralatan pengolahan secara tradisionil, pengolahan sabut kelapa dilakukan dengan cara direndam dahulu di dalam air selama beberapa hari, dengan maksud untuk melunakkan dan membusukkan gabus. Serat akan dapat dengan mudah dipisahkan dari gabus. Proses dari pengolahan sabut kelapa menjadi serat (coco fiber) menurut Sitohang, dkk. (2013) adalah sebagai berikut:
1.        Penguraian; Bahan baku yaitu sabut kelapa yang telah dikupas kemudian diurai ke dalam mesin pengurai. Pada proses ini sabut kelapa tersebut akan terurai menjadi coco fiber dan coco peat.
2.        Penjemuran; Coco fiber yang dihasilkan di stasiun penguraian dibawa ke tempat penjemuran. Coco fiber tersebut dikeringkan dengan menggunakan panas matahari. Proses penjemuran berlangsung sekitar 2-3 jam setiap harinya. Proses ini bertujuan untuk menurunkan kadar air sehingga diperoleh coco fiber yang kering sehingga coco peat yang tersisa dapat terpisah dengan mudah dari coco fiber.
3.        Pengayakan; Coco fiber yang dibawa dari stasiun penjemuran masih mengandung coco peat. Proses ini bertujuan untuk memisahkan coco peat dari coco fiber sehingga diperoleh coco fiber yang murni. Proses pengayakan menggunakan alat pengayak yang digerakkan dengan dynamo motor. Alat pengayak mampu mengayak 200 kg coco fiber dalam waktu satu jam.
4.        Pengepresan; Coco fiber yang telah diayak dibawa ke stasiun pengepresan. Coco fiber dimasukkan ke dalam mesin press sampai coco fiber menyentuh besi press. Kemudian pintu mesin press ditutup dan mesin dihidupkan. Mesin press memanfaatkan tenaga hidrolik. Proses pengepresan dilakukan sampai coco fiber padat.
5.        Pengepakan/Pengemasan (Packing); Coco fiber hasil dari stasiun pengepresan kemudian dikemas secara manual dengan menggunakan tali untuk mendapatkan bale-bale coco fiber. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan coco fiber berbentuk bale dengan ukuran 42 x 52 x 80 cm dan berat 70 kg.
2.2.2. Teknologi Pengolahan Sabut Kelapa Menjadi Serat (coco fiber)
Mesin pengolahan sabut kelapa menjadi serat dan abu belakangan mulai banyak berkembang dan dapat diperoleh secara komersial, baik yang dihasilkan oleh lembaga litbang maupun oleh swasta. Kegiatan pokok pada proses pengolahan sabut kelapa dengan menggunakan mesin tersebut pada prinsipnya terdiri dari empat tahap, yaitu (1) pelunakan sabut, (2) penyeratan, (3) pembersihan dan pengayakan, serta (4) pengepakan (untuk mempermudah pengangkutan).
Pada industri yang produknya diekspor, mesin pengolah sabut kelapa yang dipakai menurut Subyanto (2000) umumnya didatangkan dari luar negeri, terutama buatan Malaysia atau India. Mesin jenis impor ini kapasitasnya cukup besar dan kualitas hasilnya sangat memadai untuk memenuhi spesifikasi sesuai permintaan pasar ekspor. Seperti mesin yang dipakai oleh PT. Sumber Mas Minahasa Maesa di Bitung (Sulut) yang buatan Malaysia, dalam setiap jam mampu menghasilkan sekitar 750 kg serat dan 1.200 kg abu. Pada mesin jenis ini, fungsi pelunakan dan penyeratan sabut dikerjakan oleh satu komponen, tetapi dilakukan dua kali (ada dua komponen mesin yang sama) sehingga hasil serat yang masuk ke penyaring (revolving screener) sudah agak bersih. Setelah serat dan abu yang dihasilkan dikeringkan (dengan panas matahari dan angin), selanjutnya dipres dengan mesin pres hidraulik agar mempermudah dan menekan biaya pengangkutan, karena volumenya menjadi rendah.
Pada mesin jenis MTM1 buatan dalam negeri (generasi terbaru), setiap tahapan pengolahan tersebut dilakukan oleh komponen yang berbeda, karena pada paket mesin jenis ini komponennya terdiri dari unit husk crusher (pelunak sabut glondongan), decorticator (penyerat sekaligus pemisah serat panjang dengan campuran abu dan serat pendek), revolving screener (penyaring yang berfungsi membersihkan serat panjang dari abu), serta packing press (pengepak hasil). Untuk memperlancar aliran bahan dari decorticator ke penyaring, mesin juga dilengkapi dengan conveyor. Tenaga penggerak dari mesin ini adalah generator yang secara keseluruhan berjumlah 91 HP. Mesin jenis ini mampu mengolah sekitar 1000 kg sabut kelapa glondongan per jam dengan output yang dihasilkan berupa serat panjang sebanyak 150 kg dan abu sebanyak 375 kg. Mesin pres pada jenis ini juga bekerja secara hidraulik, dengan daya tekan sebesar sekitar 25 ton. Kualitas produk yang dihasilkan oleh mesin jenis MTM1 ini cukup memadai untuk tujuan ekspor. Mesin jenis MTM1 ini tampaknya sesuai untuk usaha skala menengah. Bagan proses alir pengolahan sabut kelapa dengan menggunakan mesin jenis MTM1 ini dapat dilihat pada Gambar 1.
 












Gambar 1. Diagram Proses Pengolahan Sabut Kelapa Dengan Menggunakan Mesin Jenis MTM1

Jenis mesin buatan lokal lainnya yang kapasitasnya lebih kecil tetapi sudah dioperasikan secara komersial adalah mesin yang dipakai oleh PT. Sukaraja Putra Sejati di Bandung. Pada mesin jenis ini fungsi pelunakan dan penyeratan sabut dilakukan sekaligus, sehingga pada prinsipnya mesin ini hanya terdiri dari dua komponen utama, yaitu pelunak dan penyerat (crusher) serta penyaring berputar (revolving screener). Untuk menggerakkan kedua alat ini diperlukan tenaga dua penggerak, yang masing-masing besarnya 5 HP (untuk crusher) dan 1 HP (untuk screener). Namun demikian kelebihan dari paket mesin ini adalah dilengkapi dengan mesin pengering, dengan prinsip kerja pengaliran udara panas yang dimunculkan dari pembakaran minyak tanah oleh kompor. Di samping mesin pengering, paket mesin ini juga dilengkapi dengan mesin pres dengan sistem ulir (manual). Mesin ini mempunyai kemampuan olah sebesar 400 kg input (sabut glondongan) per jam, dan mampu menghasilkan output sampai dengan 80 kg serat dan 80 kg abu. Mesin jenis ini tampaknya sesuai untuk usaha skala kecil.
Jenis mesin generasi sebelumnya serta berkapasitas lebih kecil lagi adalah mesin rancangan Balai Besar Industri Kimia (BBIK) - Deperindag maupun BPPT. Kedua jenis mesin ini prinsip kerjanya hampir sama, walaupun bentuknya berbeda. Pada jenis mesin ini, fungsi pelunak dan penyerat dilakukan komponen crusher, yang digerakkan oleh generator sebesar 10 HP (mesin BPPT). Kelebihan mesin rancangan BPPT adalah dilengkapi dengan rancangan unit pengalir bahan dari crusher ke penyaring, sehingga dapat menghemat tenaga kerja (pemindahan bahan yang keluar dari crusher ke penyaring)(Anonim, 1997). Namun demikian kemampuan olah dari mesinnya dinilai masih kecil, yaitu sebesar sekitar 40 kg input per jam, dibanding dengan rancangan BBIK sebesar sekitar 75 kg input per jam. Bekerjasama dengan Balai Penelitian Kelapa (Balitka) Manado, alat rancangan BPPT ini masih senantiasa dalam penyempurnaan, agar diperoleh rancangan mesin yang layak operasional, baik secara teknis, ekonomis, dan sosial. Namun demikian kedua mesin ini prinsip kerjanya sangat sederhana dan harganya (biaya pembuatannya) relatif murah sehingga memungkinkan untuk dioperasikan oleh pelaku setingkat kelompok tani maupun KUD. Untuk penggunaan dalam negeri seperti pengisi jok, outputnya cukup bisa diandalkan.
2.3. Strategi Pengembangan Limbah Sabut Kelapa Menjadi Serat Kelapa (Coco Fiber) Berdasarkan Beberapa Aspek Ruang Lingkup

A.      Pola Pembiayaan
Hasil wawancara yang dilakukan oleh Bank Indonesia (2010) dengan responden pengusaha kecil serat sabut kelapa menunjukkan bahwa keseluruhan kebutuhan biaya untuk operasi usaha berasal dari dana sendiri. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari responden bank umum yang beroperasi di Kabupaten Ciamis, tercatat hanya satu Bank yang memberikan fasilitas kredit kepada pengusaha kecil industri serat sabut kelapa, dan inipun terbatas hanya kepada 2 orang pengusaha.
Kredit yang diberikan adalah berupa kredit investasi dengan jumlah masing-masing pengusaha Rp. 40 juta, dengan suku bunga 21 % dan jangka waktu pengembalian 3 tahun. Kredit investasi tersebut diberikan atas pertimbangan bahwa usaha industri sabut kelapa yang dibiayai layak dan menguntungkan serta adanya mitra sebagai penjamin pasar produk serat sabut kelapa, serta jaminan dalam bentuk sertifikat tanah/bangunan tempat usaha dan mesin yang dibiayai. Hal ini tentu tidak jauh berbeda dengan daerah lain seperti di Riau.
B. Aspek Pemasaran
a. Permintaan
Serat sabut kelapa atau dalam perdagangan dunia dikenal dengan Coconut Fiber atau Coconut Coir, merupakan bahan baku untuk berbagai industri, antara lain industri karpet, dashboard dan jok untuk kendaraan, jok perabot rumah tangga, matras, spring bed, kemasan serta tali. Karakteristik produk yang bersifat heat retardant dan biodegradable, serta kecenderungan konsumen produk industri dalam penggunaan bahan alami mendorong peningkatan permintaan terhadap serat sabut kelapa. Pada tahun 1990 kebutuhan dunia terhadap serat sabut kelapa sudah mencapai 75,7 ribu ton dan terus menunjukkan kecenderungan meningkat.
Kebutuhan serat sabut kelapa dunia tersebut masih didominasi oleh Srilanka, India, Malaysia, Thailand dan negara-negara Afrika (Palungkun, 1992).
Walaupun ekspor serat sabut kelapa Indonesia menunjukkan peningkatan sejak tahun 1998, hanya sebagian kecil saja dari kebutuhan dunia tersebut yang dipasok oleh Indonesia (Tabel 3.1). Negara tujuan ekspor serat sabut kelapa Indonesia adalah Inggris, Jerman, Belgia, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Malaysia dan Australia. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari responden pengusaha sabut kelapa, setiap bulan diperkirakan China membutuhkan sekitar 50.000 ton serat sabut kelapa per bulan untuk memenuhi kebutuhan industrinya.
Keberadaan dan berkembangnya industri perabot rumah tangga, khususnya Spring Bed di Indonesia merupakan pasar potensial untuk industri serat
sabut kelapa. Berdasarkan data Statistik Industri Besar dan Sedang (1998), secara Nasional penggunaan serat sabut kelapa sebagai bahan baku tercatat sebesar 2.123,9 ton. Dari total kebutuhan bahan serat sabut kelapa yang bernilai sekitar Rp. 11,7 milyar, senilai Rp. 1,99 milyar (17,1 persen) berasal dari impor dan dari segi volume sebesar 2,53 persen berasal dari impor. Apabila dibandingkan dengan volume ekspor serat sabut kelapa pada tahun yang sama (1998), yaitu sebesar 19,1 ton, maka berarti bahwa pasar serat kelapa masih didominasi untuk kebutuhan domestik.
b. Penawaran
Berdasarkan Statistik Industri Besar dan Sedang (1998), produksi serat sabut kelapa tercatat oleh Industri Besar dan Sedang hanya sebesar 423 ton. Apabila dibandingkan dengan penggunaan serat sabut kelapa oleh industri besar dan sedang pada tahun yang sama yang berasal dari produksi lokal sebesar 2070,1 ton maka dapat ditafsirkan bahwa sebagian besar kebutuhan tersebut, yaitu sebesar 1647,1 ton dipasok oleh usaha kecil / menengah. Hal ini menunjukkan bahwa produsen serat sabut kelapa sebagian besar adalah usaha kecil / menengah. Statistik jumlah usaha kecil (industri kecil atau industri rumah tangga) dan produksi serat sabut kelapa yang dihasilkan secara Nasional masih belum tersedia. Berdasarkan studi kasus di Kabupaten Ciamis, setiap jumlah unit usaha kecil industri serat sabut kelapa di Kabupaten Ciamis tercatat sebanyak 29 unit usaha yang sebagian besar (86,2 % atau 25 unit usaha) masih berstatus sebagai industri kecil non-formal. Kapasitas produksi setiap unit usaha bervariasi berkisar antara 55 - 300 ton per tahun atau rata-rata sekitar 100 ton per tahun.
c. Harga
Harga serat sabut kelapa di pasaran ekspor berdasarkan hasil wawancara adalah sebesar US $ 210 per ton (FOB), sedangkan harga CIF di negara tujuan (Rotterdam) adalah sebesar US $ 360 per ton. Harga serat sabut kelapa Indonesia di pasaran ekspor relatif lebih rendah dibandingkan dengan serat sabut kelapa ex. India, yang bernilai sekitar US $ 290 - 320 per ton (FOB), akan tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan produksi Srilanka yaitu sebesar US $ 220 - 270 per ton (FOB). Merujuk kepada perkembangan harga mattress fiber produksi Srilanka, terdapat kecenderungan kenaikan harga dalam periode 1997 - 1999, yaitu rata-rata sebesar 3 persen per tahun.
d. Persaingan dan Peluang Pasar
Potensi persaingan industri serat sabut kelapa dapat ditinjau dari aspek persaingan produk substitusi dan persaingan industri sejenis. Dari aspek persaingan produk substitusi, khususnya sebagai bahan baku untuk industri jok kursi (mobil dan rumah tangga), dash board mobil, tali dan produk sejenis, serat sabut kelapa menghadapi persaingan dengan industri produk sintetis seperti karet busa dan plastik. Walaupun demikian, karakteristik fisika-kimia serat sabut kelapa yang spesifik dan biodegradable serta berfungsi sebagai heat retardant menjadikan serat sabut kelapa mempunyai fungsi yang spesifik yang tidak dapat digantikan oleh produk sintetis. Selain itu kesadaran konsumen terhadap kelestarian akan lingkungan dan kecenderungan untuk kembali menggunakan produk alami, menyebabkan serat sabut kelapa mempunyai peluang pasar dan mampu bersaing dengan produk-produk sintetis. Selain itu karakteristik fisika-kimia serat sabut kelapa menjadikan serat sabut kelapa berpotensi sebagai bahan baku untuk pengembangan produk industri seperti geotextile.
Aspek persaingan industri sejenis, serat sabut kelapa Indonesia dihadapkan kepada negara-negara pesaing yang lebih maju dalam hal teknologi produksi serat sabut kelapa, sehingga mempunyai kualitas yang lebih unggul. Persaingan tersebut juga dihadapi oleh karena perkembangan aplikasi teknologi yang lebih maju dalam membuat produk industri dengan bahan baku serat sabut kelapa. Negara-negara pesaing Indonesia tersebut antara lain adalah Srilanka, India, Thailand dan Philipina. Ditinjau dari kecenderungan permintaan dunia terhadap serat sabut kelapa yang meningkat, serta kontribusi Indonesia yang masih sangat kecil dalam perdagangan dunia, serat sabut kelapa Indonesia mempunyai keunggulan komparatif (potensi produksi sabut kelapa) dan mempunyai peluang yang besar. Peluang tersebut dapat diraih dengan syarat adanya perbaikan dan pengembangan teknologi proses sehingga menghasilkan serat yang memenuhi persyaratan kualitas yang diinginkan pasar.
e. Jalur Pemasaran Produk
Rantai pemasaran serat sabut kelapa secara garis besar dapat dilihat pada Grafik 2. Usaha kecil serat sabut kelapa secara umum tidak dapat langsung memasarkan produknya kepada eksportir sabut kelapa. Hal ini karena persyaratan mutu produk usaha kecil masih belum dapat memenuhi persyaratan mutu yang diinginkan. Selain itu, ketiadaan fasilitas mesin pengepress sabut - menyebabkan biaya transportasi per Kg produk untuk dipasarkan langsung ke eksportir menjadi mahal dan tidak layak.


 









Grafik 2. Rantai Tataniaga Serat Sabut Kelapa
f. Kendala dan Hambatan
Berdasarkan hasil studi kasus industri kecil pengolahan sabut kelapa di pada umumnya, kendala dan hambatan yang dihadapi oleh pengusaha adalah relatif mahalnya biaya transportasi produk untuk pemasaran langsung ke industri pengguna serat sabut kelapa atau eksportir. Hal ini karena keterbatasan dan kendala modal untuk pengadaan mesin "press". Akses terhadap informasi dan pasar ekspor merupakan salah satu kendala usaha kecil serat sabut kelapa pada aspek pemasaran ini. Hal ini juga berhubungan dengan kelengkapan mesin / peralatan produksi pada usaha kecil yang menyebabkan jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk ekspor langsung.
Pada tingkat pemasaran lokal dan domestik yang terjadi selama ini, kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil adalah lamanya realisasi pembayaran hasil penjualan produk. Kendala ini semakin dirasakan oleh pengusaha kecil karena keterbatasan modal kerja
B. Aspek Produksi
a. Lokasi Usaha
Serat sabut kelapa atau Coco Fiber merupakan produk yang berasal dari proses pemisahan serat dari bagian kulit buah (epicarp dan mesocarp). Bagian kulit buah merupakan bagian terbesar dari buah kelapa, yaitu sekitar 35 % dari total bobot. Bahan baku kulit buah kelapa bersifat kamba, sehingga untuk efisiensi biaya transportasi serta kemudahan dalam pengadaan bahan baku, maka lokasi usaha ditetapkan dekat atau pada daerah sentra produksi kelapa. Lokasi usaha seyogyanya juga tidak pada lokasi pemukiman, karena hasil samping pengolahan berupa bagian gabus (coco peat) dapat mengganggu lingkungan. Usaha ini memerlukan area yang cukup luas untuk penampungan bahan baku, penjemuran, dan penampungan hasil samping karena karakteristik bahan baku dan hasil samping.
b. Fasilitas Produksi
Proses produksi serat sabut kelapa secara teknologi relatif sederhana dan menggunakan mesin / peralatan yang sudah diproduksi oleh produsen mesin peralatan di dalam negeri. Berdasarkan informasi yang diperoleh, produsen mesin peralatan untuk produksi serat sabut kelapa untuk wilayah Jawa Barat berada di wilayah Jabotabek dan Bandung. Secara umum fasilitas produksi utama yang dibutuhkan adalah mesin pengurai dan pemisah serat dari sabut kelapa, fasilitas penjemuran atau mesin pengering, dan alat press serat sabut kelapa dan serbuk gabus sabut kelapa.
c. Bahan Baku
Bahan baku industri serat sabut kelapa adalah sabut kelapa yang merupakan hasil samping dari usaha perdagangan buah kelapa untuk konsumsi rumah tangga serta industri pengolahan kopra atau minyak kelapa. Bahan baku ini
secara umum terdapat secara melimpah di daerah sentra produksi buah kelapa, terutama Propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, serta NTT dan Maluku. Bahan baku sabut kelapa yang diinginkan adalah yang berasal dari buah kelapa dalam dengan tingkat kematangan yang sesuai untuk pembuatan minyak kelapa atau kopra.
d. Tenaga Kerja
Secara relatif industri serat sabut kelapa merupakan industri yang bersifat padat karya terutama untuk industri yang masih menggunakan teknologi proses yang sederhana. Untuk industri seperti ini, kebutuhan tenaga kerja terbesar adalah pada tahap sortasi dan pembersihan serat dari butiran gabus, yang tidak memerlukan keterampilan khusus. Tingkat keterampilan yang sederhana diperlukan untuk tenaga kerja yang bertugas sebagai operator mesin/peralatan yang relatif dapat dilatih dengan mudah. Tingkat keterampilan yang lebih tinggi diperlukan untuk operator perawatan dan perbaikan mesin, khususnya mesin penggerak. Berdasarkan studi kasus di wilayah Kabupaten Ciamis, setiap unit usaha industri serat sabut kelapa membutuhkan tenaga kerja dengan status operator mesin sekitar 5 - 6 orang dan tenaga kerja sortasi dan pembersihan sekitar 20 - 30 HOK per hari.
f. Jenis dan Mutu Produksi
Jenis produk yang dihasilkan dari industri pengolahan serat dapat dikelompokan menjadi dua yaitu :  Serat Sabut Kelapa dan Butiran Gabus. Mutu serat sabut kelapa atau Coconut Fibre, ditentukan oleh warna, persentase kotoran, kadar air, dan proporsi antara bobot serat panjang dan serat pendek. Spesifikasi mutu produk serat yang diekspor oleh salah satu perusahaan eksportir di Jakarta adalah:
1. Kadar air < 10 %
2. Kandungan gabus: < 5 %
3. Panjang serat ( 2- 10 cm) 30 %
4. Panjang serat (10 - 25 cm) 70 %
5. Ukuran Bale 70 x 70 x 50 cm
Description: D:\biokomposit\Serabut Kelapa.jpgDescription: D:\biokomposit\Profil-UMKM-RAUP-UANG-dari-SABUT-KELAPA-138676_200x200.jpg6. Bobot /Bale 50 Kg /Bale








Gambar 3. Produk Coco Fiber (Serat Sabut Kelapa)
Butiran gabus yang dikenal dalam perdagangan sebagai Coconut Peat mutunya ditentukan oleh kandungan benda asing, ukuran butiran, kadar air, dan kandungan mineral. Spesifikasi mutu Coconut Peat yang diekspor oleh salah satu perusahaan eksportir di Jakarta adalah sebagai berikut :
1. Tidak mengandung kandungan kimia
2. Bebas dari weed dan seeds
3. Kadar air <20 %
4. pH 5,98
5. EC 0,60 mS/cm
6. NaCl 0.54%
7. NH4 0.08%
8. Ca: 0.45%
9. SO4: 0.00%
10. P: 0.00%
h. Produksi Optimum
Berdasarkan hasil studi kasus untuk industri serat sabut kelapa di wilayah Kabupaten Ciamis, tingkat produksi maksimum serat sabut kelapa terutama ditentukan oleh kapasitas mesin pemisah serat dan mesin sortasi / pengayak serta jam kerja mesin atau jumlah shift kerja. Seperti halnya industri manufaktur yang lain, maka kapasitas mesin pada setiap tahapan ataurangkaian proses produksi harus seimbang (balance). Beberapa kasus usaha industri kecil serat sabut kelapa di Indonesia, rata-rata kapasitas mesin maksimum adalah berkisar 400 - 600 kg serat per hari (8 jam/hari). Pada kondisi kapasitas tersebut usaha menjadi tidak menguntungkan dan tidak layak jika tingkat produksi berada di bawah 350 kg serat per hari dengan parameter teknis dan biaya adalah tetap. Semakin besar tingkat produksi sampai batas maksimum kapasitas mesin, maka tingkat keuntungan dan kelayakan usaha semakin baik.
C. Aspek Keuangan
a. Komponen Biaya
Analisa aspek keuangan diperlukan untuk mengetahui kelayakan usaha dari sisi keuangan, terutama kemampuan pengusaha untuk mengembalikan kredit yang diperoleh dari bank. Analisa keuangan ini juga dapat dimanfaatkan pengusaha dalam perencanaan dan pengelolaan usaha industri pengolahan serat sabut kelapa. Perhitungan aspek keuangan terdiri dari dua skenario berdasarkan kelengkapan alat dan proses yang digunakan, yang berimplikasi kepada total kebutuhan dana, kapasitas, kualitas dan harga produk serta jangkauan pasar.
Skenario teknologi -1, usaha dilengkapi dengan mesin pengering dan mesin pengepress, dengan kapasitas usaha yang lebih besar yaitu 1500 kg serat per hari. Pada skenario -2, pengeringan dengan cara penjemuran dan pengepressan dilakuan secara manual. Teknologi-2 yang sederhana ini sebagian besar diterapkan oleh usaha kecil di beberapa daerah. Ke dua skenario tersebut menggunakan sumber kredit yang sama, dengan tingkat bunga 24% per tahun. Untuk penyusunan dan proyek kelayakan usaha diperlukan adanya beberapa asumsi mengenai parameter teknologi proses maupun biaya.
Komponen biaya usaha industri pengolahan mencakup biaya investasi dan biaya operasi usaha. Biaya investasi mencakup (1) pengadaan alat dan mesin, (2) bangunan, dan (3) modal kerja. Modal kerja direncanakan untuk kebutuhan dana operasi selama 4 bulan.
b. Pendapatan
Pendapatan usaha industri serat sabut kelapa diperoleh dari produk utama, yaitu serat dan hasil samping berupa gabus yang dikenal sebagai Coco Peat. Pendapatan usaha diproyeksikan dengan asumsi bahwa pada tahun pertama usaha beroperasi pada kapasitas 80% dan pada tahun kedua kapasitas 90%, dan pada tahun ke tiga dan seterusnya beroperasi pada kapasitas 100%.
c. Hambatan dan Kendala
Hambatan dan kendala yang dihadapi oleh industri serat sabut kelapa ini dari aspek keuangan menyangkut aspek arus kas masuk dan keluar keuangan. Pada aspek arus kas masuk adalah terjadinya penundaan pembayaran hasil penjualan produk yang menyebabkan akumulasi keuntungan usaha tidak dapat membiayai operasi usaha selama masa penundaan pembayaran. Walaupun demikian hambatan dan kendala ini dapat di atasi apabila pengusaha mempunyai "track record" yang baik di mata perbankan, sehingga dapat diatasi melalui kredit modal kerja yang dapat disediakan oleh perbankan.
Aspek arus kas masuk, khususnya yang menyangkut dengan kebutuhan modal investasi, kendala yang dihadapi oleh pengusaha kecil adalah pada aspek administrasi dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh kredit dari perbankan. Di samping itu, hambatan dan kendala akan dihadapi oleh pengusaha dalam memperoleh kredit apabila perbankan belum mempunyai informasi yang lengkap tentang kelayakan dan prospek usaha ini, serta pengusaha atau calon pengusaha yang akan berinvestasi pada industri serat sabut kelapa ini belum pernah menjadi nasabah bank. Pada aspek arus kas keluar, tidak ada hambatan dan kendala pada aspek keuangan apabila penurunan harga jual dan kenaikan biaya operasi masih di dalam kisaran yang dimungkinkan untuk kelayakan finansial. Simulasi terhadap aspek finansial menunjukkan bahwa usaha ini akan menghadapi masalah finansial jika terjadi kenaikan biaya usaha lebih dari 40% atau penurunan harga jual produk mencapai lebih dari 25%.
D. Aspek Sosial Ekonomi
a. Manfaat Sosial Ekonomi
Bahan baku sabut kelapa merupakan hasil samping dari industri pengolahan kopra atau petani / pedagang buah kelapa. Keberadaan industri pengolahan serat ini menjadikan hasil samping sabut kelapa memberikan nilai ekonomis yang lebih baik, sehingga meningkatkan pendapatan petani/pedagang buah kelapa. Pemanfaatan sabut kelapa sebagai bahan baku industri sehingga menjadi komoditi perdagangan menyebabkan terbukanya kesempatan kerja baru, yaitu dalam bentuk adanya pedagang pengumpul sabut kelapa serta usaha jasa transportasi. Karakteristik usaha kecil industri pengolahan sabut kelapa secara umum tidak sepenuhnya menggunakan mesin / peralatan dalam proses produksinya, khususnya pada tahap pembersihan, penyaringan dan pengeringan. Pada kondisi teknologi produksi tersebut, usaha ini membutuhkan tenaga kerja paling sedikit sekitar 20 - 30 HOK, dengan jam kerja sekitar 6 - 8 jam per hari.
b.   Manfaat Regional
Secara umum keberadaan dan pengembangan industri serat sabut kelapa memberikan dampak yang positif bagi wilayah. Terbukanya peluang kerja serta peningkatan pendapatan masyarakat dan sekaligus peningkatan pendapatan daerah merupakan dampak positif bagi pengembangan industri serat sabut kelapa. Serat sabut kelapa merupakan komoditi ekspor, sehingga akan memberikan kontribusi bagi pendapatan devisa negara dan sekaligus juga menghemat devisa. Oleh karena serat sabut kepala merupakan bahan baku bagi industri matras, jok mobil, tali dan lain-lain, maka pengembangan industri ini dapat mendorong berkembangnya industri pengguna serat sabut kelapa.
D. Aspek Lingkungan
Industri pengolahan serat sabut kelapa tidak menghasilkan limbah cair maupun gas. Limbah yang terjadi adalah dalam bentuk fisik, yaitu berupa hasil samping gabus sabut kelapa dalam jumlah atau volume yang besar. Setiap 1000 butir sabut kelapa yang diproses akan menghasilkan sekitar 100-125 liter butiran gabus. Akan tetapi, hasil samping butiran gabus atau Coco Peat ini masih mempunyai nilai ekonomi, dalam pengertian dapat dijual apabila dilakukan proses penyaringan dan pengeringan serta dengan teknologi pengemasan sehingga memenuhi persyaratan mutu yang dikehendaki konsumen.
Coco Peat dapat digunakan sebagai media tanam antara untuk tanaman jamur. Gabus sabut kelapa dalam bentuk debu dari proses pemisahan dan sortasi serat berpotensi terhadap kesehatan tenaga kerja, apabila tenaga kerja tidak dilengkapi dengan pelindung atau masker. Akan tetapi karena ukuran partikelnya yang relatif besar, maka debu gabus kelapa ini tidak memberikan dampak yang negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Industri pengolahan serat memberikan dampak lingkungan fisik yang positif oleh karena dapat mengurangi limbah sabut kelapa sebagai hasil samping dari kegiatan usaha perdagangan buah kelapa dan usaha pengolahan kopra.


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
            Kesimpulan dari tulisan ini adalah:
1.        Industri pengolahan serat sabut kelapa merupakan industri yang berpotensi untuk dikembangkan, dengan sumber bahan baku sabut kelapa yang sangat berlimpah yaitu sekitar 1,7 juta ton. Indonesia masih belum memanfaatkan secara optimal potensi sabut kelapa untuk dijadikan serat sabut kelapa yang mempunyai nilai ekonomis sebagai komoditi perdagangan dan bahan baku industri.
2.        Serat sabut kelapa dan hasil sampingnya berupa butiran gabus kelapa (coco peat) merupakan salah satu komoditi yang mempunyai pasar yang cukup potensial baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor. Kebutuhan dunia terhadap serat sabut kelapa adalah sekitar 75,7 ribu ton, dan kontribusi Indonesia terhadap kebutuhan serat sabut kelapa dunia masih sangat kecil. Serat dan butiran gabus sabut kelapa mempunyai keunggulan komparatif ditinjau dari aspek karakteristik fisika-kimia yang tidak dapat digantikan oleh produk sintetis, dan mempunyai prospek untuk produk industri yang berorientasi ramah lingkungan. Industri serat sabut kelapa Indonesia menghadapi persaingan dengan negara produsen serat yang telah lebih maju dari segi teknologi dan pasar, yaitu antara lain Srilanka, India, dan Thailand.
3.        Pengembangan usaha industri serat sabut kelapa memberikan manfaat yang positif baik dari aspek sosial ekonomi, wilayah maupun lingkungan.
4.        Teknis produksi serat sabut kelapa relatif sederhana dan dapat diusahakan oleh usaha kecil, dengan kebutuhan modal investasi yang masih terjangkau untuk usaha kecil / menengah.
5.        Secara finansial industri serat sabut kelapa dengan mesin/peralatan yang lengkap memberikan indikator-indikator kelayakan yang lebih baik dibandingkan dengan aplikasi teknologi yang sederhana.
3.2. Saran
Saran untuk tulisan ini adalah:
1.        Berdasarkan potensi bahan baku, prospek pasar, tingkat teknologi proses, dan aspek finansial, disarankan pemerintah dapat memberikan bantuan untuk pengembangan usaha industri serat sabut kelapa ini, khususnya terhadap usaha kecil dan menengah.
2.        Usaha kecil industri serat sabut kelapa perlu dibina untuk mengembangkan jaringan kerja usaha dalam bentuk wadah asosiasi atau koperasi sehingga secara agregat mempunyai skala dan kapasitas usaha yang dapat memenuhi kontrak dagang dalam jumlah besar, khususnya untuk tujuan ekspor. Kelembagaan dalam bentuk asosiasi atau koperasi yang menampung dan memproses lebih lanjut hasil produksi anggota sehingga memenuhi persyaratan mutu yang diinginkan pasar perlu dibentuk. Untuk itu asosiasi atau koperasi ini perlu memperoleh fasilitas kredit untuk melengkapi fasilitas mesin pengering dan mesin pengepress.

DAFTAR PUSTAKA

Akuba, R.H. dan Mahmud, Z. 1996. Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kelapa di Kawasan Timur Indonesia. Balai Penelitian Kelapa. Manado.

Anonim. 1997. Laporan Teknis Tolok Ukur Rekayasa Peralatan Agroindustri. Kedeputian Bidang Pengkajian Industri – BPP Teknologi. Jakarta.
Anonim. 1998. Brosur Balai Besar Industri Kimia. Departemen Perindustrian dan Perda- gangan. Jakarta.

Anonim. 1999. Prospek Bisnis Limbah Kelapa. Majalah Trubus Edisi Maret 1999. Jakarta.

Arancon Jr., R.N. 1999. Overview and Prospects of the Indonesian Coconut Industry in the World Perspective. Asian and Pacific Coconut Community. Makalah Seminar Perkelapaan Indonesia. Jakarta
Rahman, H.M.Y. 1999. Potensi dan Peluang Pasar Produk-produk Kelapa. Direktorat Industri Agro. Departemen

Sitohang, A. Paskaris, Salmiah, Sri F. Ayu. 2013. Analisis Finansial Dan Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Sabut Kelapa Menjadi Serat Kelapa (Coco Fiber) (Studi Kasus : Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang). Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Subyanto. 2000. Prospek Industri Pengolahan Limbah Sabut Kelapa. Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol.1, No. 1.

Taufikkurahman, L. 1988. Coconut Statistical Yearbook 1977. APCC. Jakarta.