Minggu, 24 Mei 2015

APLIKASI METODE KLIMOGRAF UNTUK BUDIDAYA BUAH APEL MALANG Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi) KABUPATEN MALANG DAN KABUPATEN TANA TORAJA



I.     Latar Belakang
Produksi tanaman sangat dipengaruh oleh iklim. Jika tanaman ditanam tidak sesuai dengan iklim tempat asalnya tumbuh, maka produktivitasnya tidak akan maksimal. Hubungan iklim dengan tanaman yaitu dapat menentukan secara aktual tingkat  kualitas dan kuantitas produksi tanaman, sehingga dapat menentukan kapasitas atau produktivitas tanaman dalam jangka yang penjang. Manfaat klimatologi pertanian yaitu sebagai berikut :
1.      Seleksi kultivar/spesies/ras ternak yang adaptif di suatu tempat sehingga potensial untuk dibudidayakan.
2.      Memilih lokasi yang kondisi iklimnya sesuai untuk pengembangan suatu kultivar/spesies/ras ternak yang harus diintroduksikan.
3.      Memungkinkan pengembangan tekhnologi untuk memodifikasikan iklim untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian.
4.      Pengaturan pola tanam dan penyerasian antara iklim dengan aktivitas budidaya pertanian.
Menurut ( Ashari, 2006 ) setidaknya ada dua fakor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu curah hujan dan distribusi hujan serta tinggi tempat dari permukaan laut. Selain kedua faktor tersebut, produksi tanaman juga dipengaruhi oleh radiasi matahari dan suhu atau temperatur. Untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga menghasilkan produksi yang diharapkan, tanaman membutuhkan kondisi iklim yang sesuai dengan syarat tumbuhnya. Untuk menguji kesesuaina tanaman dengan iklim digunakan beberapa cara diantaranya dengan mengumpulkan data tentang kebutuhan fisiologi tanaman terhadap berbagai faktor lingkungan iklimnya.Selain itu dapat juga menganalisis kesesuainnya dengan menggunakan klimogram.
Klimograf adalah suatu grafik yang menggambarkan titik curah hujan bulanan ratarata (dalam milimeter) terhadap suhu bulanan rata-rata (dalam derajat Celcius) atau unsur meteorologis lainnya, yang didapat dari data dua tempat lingkungan yang memiliki iklim berbeda.
 Dalam bidang pertanian, klimogram umumnya digunakan sebagai tolak ukur atau parameter jika suatu tanaman akan dikembangkan di daerah yang berbeda dengan daerah asalnya. Dengan menggambarkan klimogram daerah asal dari tanaman dan daerah tujuan pengembangannya, maka dapat diketahui persamaan dan perbedaan iklimnya yaitu setelah kedua klimogram tersebut ditumpangtindihkan satu sama lain.

II.  Tujuan
Tujuan dari tugas ini yaitu untuk mengetahui suatu wilayah yang sebagai sentra produksi tanaman Apel Malang (Varietas Manalagi)  di wilayah Malang, Jawa Timur, apakah dapat diintroduksikan dan cocok di wilayah Toraja, Sulawesi Selatan dengan menggunakan pengaplikasian Metode Klimogram.

III.   Tinjauan Pustaka
III.1 Apel Malang Malus sylvestris  Mill (Varietas Manalagi)
Pohon apel merupakan pohon yang kecil dan berdaun gugur, mencapai ketinggian 3 hingga 12 meter, dengan tajuk yang lebar dan biasanya sangat beranting.[2] Daun-daunnya berbentuk lonjong dengan panjang 5 – 12 cm dan lebar 3 - 6 centimeter. Bunga apel mekar di musim semi, bersamaan dengan percambahan daun. Bunganya putih dengan baur merah jambu yang berangsur pudar. Pada bunga, terdapat lima kelopak, dan mencapai diameter 2.5 hingga 3.5 cm. Buahnya masak pada musim gugur, dan biasanya berdiameter 5 hingga 9 centimeter. Inti buah apel memiliki lima gynoecium yang tersusun seperti bintang lima mata, masing-masing berisi satu hingga tiga biji.
Apel  merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini. Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di adalah Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar), Jatim. Di daerah ini apel telah diusahakan sejak tahun 1950, dan berkembang pesat pada tahun 1960 hingga saat ini. Selain itu daerah lain yang banyak dinanami apel adalah Jawa Timur (Kayumas-Situbondo, Banyuwangi), Jawa Tengah (Tawangmangu), Bali (Buleleng dan Tabanan), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sedangkan sentra penanaman dunia berada di Eropa, Amerika, dan Australia



Gambar 1. Apel Malang Malus sylvestris  Mill (Varietas Manalagi)
Klasifikasi tanaman Apel Malang Malus sylvestris  Mill (Varietas Manalagi) (Tjitrosoepomo, 2007) yaitu :
Regnum      : Plantae
Divisio        : Spermatophyta
Subdivisio  : Angiospermae
Classis        : Dicotyledoneae
Subclassis   : Dialypetalae
Ordo           : Rosales
Familia       : Rosaceae
Genus         : Malus
Species       : Malus sylvestris  Mill
 








Kondisi lingkungan disekitar tempat budidaya, seperti halnya iklim setempat memiliki pengaruh yang sangat besar atas kelangsungan dan keberhasilan budidaya. Iklim yang menunjang atau sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman apel sangat mendukung keberhasilan budidaya dengan hasil yang optimal. Tanaman apel dapat tumbuh dan berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl. dengan ketinggian optimal 1000-1200 m dpl. n signifikan terhadap produktivitas apel. Persyaratan iklim yang dibutuhkan dalam budidaya apel antara lain :
·         Curah hujan
Untuk budidaya tanaman apel, curah hujan yang ideal adalah 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Dalam setahun banyaknya bulan basah adalah 6-7 bulan dan bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan yang tinggi saat berbunga akan menyebabkan bunga gugur sehingga tidak dapat menjadi buah.
·         Cahaya Matahari
Tanaman apel membutuhkan cahaya matahari yang cukup antara 50-60% setiap harinya, terutama pada saat pembungaan.
·         Suhu
Suhu yang sesuai untuk budidaya apel berkisar antara 16-27 derajat Celcius. Persyaratan ini dipenuhi oleh daerah-daerah ini dataran tinggi yang banyak dijumpai di Indonesia.
·         Kelembaban Udara
Dalam budidaya tanaman apel, kelembaban udara yang dikehendaki tanaman apel sekitar 75-85%.
III.2 Daerah Asal Apel Malang Malus sylvestris  Mill (Varietas Manalagi)
a.      Kondisi Geografi Kabupaten Malang
Kota Malang yang terletak pada ketinggian antara 440 - 667 meter diatas permukaan air laut, merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya yang berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Malang secara astronomis terletak 112,06° - 112,07° Bujur Timur dan 7,06°- 8,02° Lintang Selatan, dengan batas wilayah sebagai berikut :
·         Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kec. Karangploso Kabupaten Malang
·         Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
·         Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
·         Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang
Serta dikelilingi gunung-gunung :
·         Gunung Arjuno di sebelah Utara
·         Gunung Semeru di sebelah Timur
·         Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat
·         Gunung Kelud di sebelah Selatan

b.      Kondisi Iklim Kabupaten Malang
Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2012 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara 23,37°C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 24,60°C dan suhu minimum 21,64°C . Rata kelembaban udara berkisar 79% - 86%. Dengan kelembaban maksimum 99% dan minimum mencapai 40%. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso Curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Februari, November, Desember. Sedangkan pada bulan Juni dan September curah hujan relatif rendah. Kecepatan angin maksimum terjadi di bulan Mei, September, dan Juli. Untuk lebih jelasnya, kondisi iklim Kabupaten Malang dalam 12 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini :
Tabel 1. Data Klimatologi Kabupaten Malang 2000-2010
Bulan
Curah Hujan
Temperatur
Penyinaran
Januari
281.27
23.61
48.09
Februari
304.82
23.71
44.79
Maret
262.46
23.65
50.23
Apil
152.24
23.91
63.63
Mei
107.48
23.72
70.26
Juni
31.02
22.87
76.80
Juli
23.59
22.20
80.10
Agustus
19.97
22.13
81.76
September
33.85
23.20
80.72
Oktober
81.70
24.24
72.50
November
223.62
24.83
63.19
Desember
290.09
23.49
42.53
Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika Malang
III.3 Daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang Diintroduksikan Apel Malang Malus sylvestris  Mill (Varietas Manalagi)
a.        Kondisi Geografi Kabupaten Tana Toraja
Tana Toraja terletak di tengah-tengah pulau Sulawesi, salah satu pulau besar berbentuk bintang laut di antara Pulau Kalimantan (Borneo) dan Papua, Indonesia. Secara Geografis, Tana toraja berada pada 2° 40' LS sampai 3° 25' LS dan 119° 30' BT sampai 120° 25' BT, terletak 311 km sebelah utara kota Makassar. Beberapa kabupaten dilewati jika menuju kabupaten ini diantaranya Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, dan Kota Parepare. Keempat kabupaten tersebut terletak pada dataran rendah yang berbatasan dengan wilayah perairan Selat Makassar di sebelah barat. Sedangkan disebelah timur merupakan jajaran pegunungan yang memanjang dari utara ke selatan.










Gambar 2. Peta Administrasi Kabupaten Tana Toraja
Kondisi topografi Kabupaten Tana Toraja merupakan dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan dengan keadaan lerengnya curam yakni rata-rata kemiringan diatas 25 %. Kabupaten Tana Toraja terdiri dari pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah dan sungai dengan ketinggian berkisar antara < 300 m - > 2500 m dpl. Bagian terendah Kabupaten Tana Toraja berada di Kecamatan Bonggakaradeng sedangkan bagian tertinggi berada di Kecamatan Bittuang.
b.      Kondisi iklim Tana toraja
Tana Toraja beriklim tropis. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober - Maret sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April - September. Perubahan iklim dunia dan pengaruh pemanasan global sedikit mempengaruhi pola iklim di Tana Toraja dalam satu dekade terakhir, namun pola dan masa tanam padi yang hampir seluruhnya mengandalkan air hujan tetap belum berubah. Curah hujan tertinggi biasanya terjadi pada Desember hingga Januari. Terdapat juga daerah yang hampir selalu terselimuti kabut sepanjang hari di perbatasan dengan daerah Teluk Bone.
Temperatur suhu rata-rata daerah Tana Toraja berkisar antara 15oC – 28oC dengan kelembaban udara antara 82-86 %. Curah hujan rata-rata 1500 mm/thn sampai lebih dari 3500 mm/thn. Daerah Tana Toraja pada dasarnya beriklim dengan dua musim berdasarkan curah hujan yaitu :
·      Musim hujan pada periode Bulan Oktober – Bulan Maret
·      Musim kemarau pada periode Bulan April – Bulan September
·         Letaknya berada di 03° 02' 33,23’’LS sampai 119° 49’ 15,38’’BT
·         Elevasi stasiun berada di 825 mdpal

Menurut Oldement, tipe iklim Kabupaten Tana Toraja adalah tipe C2 yaitu bulan basah (200 mm) selama 2-3 bulan berturut-turut dan bulan kering (100 mm) selama 2-3 bulan berturut-turut. Hal ini sangat mendukung aktivitas masyarakat pada sector agraris. Untuk lebih jelasnya, kondisi iklim Kabupaten Tana Toraja dalam 12 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :
Tabel 2. Data Klimatologi Kabupaten Tana Toraja 2000-2010
Bulan
Curah Hujan
Temperatur
Penyinaran
Januari
235.47
22.43
56.72
Februari
236.77
21.99
55.90
Maret
302.06
22.72
59.90
Apil
366.75
22.58
60.63
Mei
218.13
22.28
64.54
Juni
146.46
22.77
56.90
Juli
118.12
22.00
59.00
Agustus
102.59
21.98
67.36
September
95.10
22.34
79.54
Oktober
190.38
22.96
78.27
November
306.10
23.27
72.90
Desember
276.10
22.76
60.54
                          Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika Tana Toraja

IV.   Hasil dan Pembahasan
IV.3 Klimograf Apel Malang Malus sylvestris  Mill (Varietas Manalagi)
IV.3.1 Curah Hujan dan Temperatur
Data curah hujan bulanan selama 10 tahun dikombinasikan dengan data temperatur bulanan selama 10 tahun yang telah dirata-ratakan pada masing-masing wilayah. Adapun hasilnya dapat dilihat pada table di bawah ini :
Tabel 8. Curah Hujan Kabupaten dan Temperatur Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang

Bulan
Malang
Tana toraja
Curah Hujan
Temperatur
Curah Hujan
Temperatur
Januari
281.27
23.61
235.47
22.43
Februari
304.82
23.71
236.77
21.99
Maret
262.46
23.65
302.06
22.72
April
152.24
23.91
366.75
22.58
Mei
107.48
23.72
218.13
22.28
Juni
31.02
22.87
146.46
22.77
Juli
23.59
22.20
118.12
22.00
Agustus
19.97
22.13
102.59
21.98
September
33.85
23.20
95.10
22.34
Oktober
81.70
24.24
190.38
22.96
November
223.62
24.83
306.10
23.27
Desember
290.09
23.49
276.10
22.76













Klimograf Rerata Bulanan Curah Hujan dan Temperatur
Curah hujan rata-rata yang dibutuhkan Apel Malang Malus sylvestris  Mill (Varietas Manalagi) untuk dapat tumbuh adalah sekitar 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Jika dirata-ratakan, curah hujan untuk Kabupaten Tana Toraja adalah sekitar 2879,57 mm/tahun sedangkan untuk Kabupaten Malang sekitar 1797,49 mm/tahun. Untuk temperatur rata-rata yang dibutuhkan apel Malang agar dapat tumbuh adalah 16 °C  - 27 °C. Jika dirata-ratakan, temperatur untuk Kabupaten Tana Toraja adalah sekitar 22,48o C sedangkan untuk Kabupaten Malang sekitar 23,47o C.
Jika dilihat dari grafik, Kabupaten Tana Toraja yang memiliki temperatur antara 21,87oC- 23,20oC menghasilkan curah hujan yang sangat tinggi hingga mencapai 375,54 mm/bulan sedangkan untuk Kabupaten Malang yang memiliki temperatur berkisar antara 22,08 oC-24,76 oC menghasilkan curah hujan paling tinggi sekitar 304,5 mm/bulan. Berdasarkan grafik tersebut, dapat dilihat bahwa Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang menghasilkan pola yang berbeda. Kabupaten Tana Toraja dengan temperatur yang rendah dan curah hujan tinggi sedangkan Kabupaten Malang memiliki temperatur yang lebih tinggi dengan curah hujan yang lebih rendah. Berdasarkan hasil tersebut, maka untuk parameter temperatur dan curah hujan, Apel Malang yang berasal dari Kabupaten Malang tidak dapat dibudidayakan di Kabupaten Tana Toraja.
IV.3.2 Curah Hujan dan Lama Penyinaran
Data curah hujan bulanan selama 10 tahun dikombinasikan dengan data lama penyinaran bulanan selama 10 tahun yang telah dirata-ratakan pada masing-masing wilayah. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 9. Rerata Curah Hujan dan Lama Penyinaran Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang

Bulan
Malang
Tana Toraja
Curah Hujan
Penyinaran
Curah Hujan
Penyinaran
Januari
281.27
48.09
235.47
56.72
Februari
304.82
44.79
236.77
55.90
Maret
262.46
50.23
302.06
59.90
April
152.24
63.63
366.75
60.63
Mei
107.48
70.26
218.13
64.54
Juni
31.02
76.80
146.46
56.90
Juli
23.59
80.10
118.12
59.00
Agustus
19.97
81.76
102.59
67.36
September
33.85
80.72
95.10
79.54
Oktober
81.70
72.50
190.38
78.27
November
223.62
63.19
306.10
72.90
Desember
290.09
42.53
276.10
60.54
Klimograf Rerata Bulanan Curah Hujan dan Lama Penyinaran

Lama penyinaran yang dibutuhkan Apel Malang agar tumbuh pada suatu daerah adalah sekitar 50-60% setiap harinya. Jika dirata-ratakan untuk Kabupaten Tana Toraja lama penyinarannya sekitar 64 % sedangkan untuk Kabupaten Malang sekitar 63 %.
Jika dilihat dari grafik lama penyinaran untuk Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang tidak jauh berbeda sehingga grafiknya hampir berimpit. Yang menyebabkan pola dari kedua grafik tersebut berbeda adalah nilai curah hujan yang berbeda. Pola yang berbeda tersebut menyebabkan untuk parameter lama penyinaran dan curah hujan tidak dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk membudidayakan tanaman Apel Malang di Kabupaten Tana Toraja.
IV.3.3 Temperatur dan Lama Penyinaran
Data temperatur bulanan selama 10 tahun dikombinasikan dengan data lama penyinaran bulanan selama 10 tahun yang telah dirata-ratakan pada masing-masing wilayah. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :







Tabel 10. Rerata Temperatur dan Lama Penyinaran Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang

Bulan
Malang
Tana Toraja
Temperatur
Penyinaran
Temperatur
Penyinaran
Januari
23.61
48.09
23.64
22.43
Februari
23.71
44.79
23.71
21.99
Maret
23.65
50.23
23.64
22.72
April
23.91
63.63
23.86
22.58
Mei
23.72
70.26
23.70
22.28
Juni
22.87
76.80
22.80
22.77
Juli
22.20
80.10
22.14
22.00
Agustus
22.13
81.76
22.08
21.98
September
23.20
80.72
23.15
22.34
Oktober
24.24
72.50
24.27
22.96
November
24.83
63.19
24.76
23.27
Desember
23.49
42.53
23.83
22.76

Klimograf Rerata Bulanan Temperatur dan Lama Penyinaran

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa pola yang dihasilkan antara Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang hampir sama. Yang membedakan adalah persentasi lama penyinaran dan temperaturnya. Untuk Kabupaten Tana Toraja lama penyinarannya berkisar antara 56,92% - 79,23% dengan temperatur antara 21,87oC- 23,20oC sedangkan untuk Kabupaten Malang lama penyinarannya berkisar antara 41,51% - 88,59% dengan temperatur antara 22,08oC-24,76oC. Dengan pola yang relatif sama maka dapat disimpulkan bahwa untuk parameter temperatur dan lama penyinaran dapat digunakan sebagai parameter dalam pembudidayaan Apel malang dengan syarat, tidak semua wilayah di Kabupaten Malang yang dapat dijadikan daerah pembudidayaan Apel Malang. Unsur-unsur non meteorologist seperti jenis tanah, topografi adalah faktor yang harus diperhatikan dalam pembudidayaan Apel Malang.
I.         Kesimpulan
Dari hasil klimograf Apel Malang dari Malang ke Tana Toraja dapat disimpulkan bahwa berdasarkan syarat tumbuh Apel Malang yang diperoleh dari parameter-parameter meteorologistnya seperti curah hujan, temperatur dan lama penyinaran maka dapat disimpulkan bahwa Apel Malang tidak dapat dibudidayakan di Kabupaten Tanah Toraja. Hal ini disebabkan karena curah hujan Kabupaten Tana Toraja yang tidak mencukupi kebutuhan Apel Malang untuk dapat tumbuh. Curah hujan Kabupaten Malang rata-rata per bulan sebanyak 149.79 mm/bulan sedangkan untuk Kabupaten Tana Toraja mencapai 362 mm/bulan. Sedangkan untuk parameter temperatur dan lama penyinaran antara Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang tidak jauh berbeda. Meskipun parameter temperatur dan lama penyinaran cukup memenuhi syarat sebagai syarat tumbuh Apel Malang, namun secara umum Apel Malang tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah Tana Toraja. Parameter-parameter non meteorologis juga menjadi pertimbangan penting seperti tipe atau jenis tanah, topografi dan lain-lain untuk dapat membudidayakan Apel Malang di Tana Toraja. Perbedaan topografi menyebabkan perbedaan iklim, sehingga akan mempengaruhi syarat tumbuh apel malang di toraja.












DAFTAR PUSTAKA
Herniwati dan Kadir,S. 2009. Potensi Iklim,Sumber Daya Lahan dan Pola Tanam di Sulawesi Selatan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan
Kaihatu,S. 2012. Pengaruh Iklim Terhadap Pertanian. Science Inovation Netrwork. Maluku