Selasa, 27 Desember 2011

laporan ekologi umum KEANEKARAGAMAN JENIS DALAM KOMUNITAS

LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM

PERCOBAAN X
KEANEKARAGAMAN JENIS DALAM KOMUNITAS

NAMA           : HARMIN ADIJAYA PUTRI
NIM                : H41110251
KELOMPOK : V (LIMA)
HARI/TGL    : SELASA/19  APRIL 2011
ASISTEN        : SUWARDI
                            YUSDAR M.



LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Keanekaragaman jenis merupakan karakteristik tingkatan dalam komunitas berdasarkan organisasi bilogisnya, yang dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitasnya. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies dengan kelimpahan spesies sama dan hampir sama. Sebaliknya jka suatu komunitas disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan maka keanekaragaman jenisnya rendah (Umar, 2011).
            Para ahli ekologi telah banyak mengembangkan perhitungan atau metode kuantitatif untuk mengukur keragaman jenis komunitas antara lain yang bayak sekarang dipakai adalah Indeks Simpson dan Indeks Shannon wiener (Umar, 2011).
Setiap tingkatan biologi  sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies dan komunitas alami, dan kesemuanya penting bagi manusia. Keanekaragaman spesies mewakili aneka ragam adaptasi  evolusi dan ekologi suatu spesies pada lingkungan tertentu. Keanekaragaman spesies menyediakan bagi manusia sumber daya alternatifnya. Contohnya,  hutan hujan tropik dengan aneka variasi spesies yang menghasilkan tumbuhan dan hewan yang dapat digunakan untuk makanan, tempat bernaung dan obat-obatan. Keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem pertanian seperti persawahan dapat mempengaruhipertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu dalam sistem perputaran nutrisi, perubahan iklim mikro, dan detoksifikasi senyawa kimia. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor (Umar, 2011).
Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung dan menganalisis data dari keanekaragaman jenis suatu komunitas pada daerah/wilayah tertentu, maka dilkukanlah percobaan ini.
I.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :
1.      Untuk mengetahui dan menentukan keanekaragaman jenis suatu komunitas dengan berdasarkan pada Indeks Simpson dan Indeks Shannon wiener.
2.      Melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan metode teknik-teknik sampling organisme dan rumus sederhana dalam menghitung organisme dalam komunitas.

I.3 Waktu dan Tempat
            Percobaan Keanekaragaman Jenis Dalam Komunitas ini dilakukan pada hari Selasa, tanggal 19 April 2011 pukul 13.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar Lantai 1, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan pengambilan data dilakukan di Canopy Biologi, Universitas Hasanuddin, Makassar.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suatu organisme tidak dapat hidup menyendiri, tetapi harus hidup bersama-sama dengan organisasi sejenis atau dengan yang tidak sejenis. Berbagai organisme yang hidup di suatu tempat, baik yang besar maupun yang kecil, tergabung dalam suatu persekutuan yang disebut komunitas biotik. Suatu komunitas biotik terikat sebagai suatu unit oleh saling ketergantungan anggota-anggotanya. Suatu komunitas adalah suatu unit fungsional dan mempunyai struktur yang pasti. Tetapi srtuktur ini sangat variabel, karena jenis-jenis komponennya dapat dipertukarkan menurut aktu dan ruang. Komunitas biotik terdiri atas kelompok kecil, yang anggota-anggotanya lebih akrab lagi satu sama lain, sehingga kelompok kecil itu merupakan unit ynag kohesif. Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem (Rososoedarmo, 1990).
            Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi. Komunitas yang tua dan stabil akan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi. Sedangkan suatu komunitas yang sedang berkembang pada tingkat suksesi mempunyai jumlah jenis rendah daripada komunitas yang sudah mencapai klimaks. Komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi lebih tidak mudah terganggu oleh pengaruh lingkungan. Jadi dalam suatu komunitas dimana keanekaragamannya tinggi akan terjadi interaksi spesies yang melibatkan transfer energi, predasi, kompetisi dan niche yang lebih kompleks (Umar, 2011).
            Tanaman dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membentuk kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungannya yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat pula kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk suatu derajat keterpaduan. Kumpulan atau susunan dari berbagai populasi yang tekah menyesuaikan diri dan menghuni suatu wilayah tertentu di alam disebut komunitas. Dan seperti halnya populasi dan jasad hidup lain yang membentuknya, kounitas pun mempunyai struktur dan fungsi di alam bahkan dengan derajat organisme yang lebih tinggi, karena mempunyai ciri, sifat, dan kemampuan yang lebih tinggi daripada populasi. Misalnya dalam populasi interaksi hanya bisa dicapai antar individu, sedangkan dalam komunitas bisa antar populasi (Odum, 1993).
            Konsep komunitas cukup jelas, tetapi seringkali dalam penentuan batas dan pengenalan batas komunitas tidak mudah. Meskipun demikian, komponen-komponen komunitas ini mempunyai kemampuan untuk hidup dalam lingkungan yang sama di suatu tempat dan untuk hidup saling bergantung yang satu terhadap yang lain. Komunitas mempunyai derajat keterpaduan yang lebih tinggi dari pada individu-individu dan populasi tumbuhan dan hewan yang menyusunnya. Komposisi suatu komunitas ditentukan oleh seleksi tumbuhan dan hewan yang kebetulan mencapai dan mampu hidup di tempat tersebut, dan kegiatan komunitas-komunitas ini bergantung pada penyesuaian diri setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan biologi yang ada di tempat tersebut (Odum, 1993).
            Suatu nan komunitas dapat mengkarakteristikakkan suatu unit lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang seragam. Unit lingkungan seperti ini disebut biotop. Hamparan lumpur, pantai pasir, gurun pasir, dan unit lautan merupakan contoh biotop. Di sisni biotop ditentukan oleh sifat-sifat fisik. Biotop-biotop lain dapat pula dicirikan oleh unsur organismenya, misalnya padang alang-alang, hutan tusam, hutan cemara, rawa kumpai, dan sebagainya (Heddy, 1986).
            Keanekaragaman kecil terdapat pada komunitas yang terdapat pada daerah dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin dan pegunungan tinggi. Sementara itu, keanekaragaman yang tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum. Hutan tropika adalah contoh komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi. Sementara ahli ekologi berpendapat bahwa komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi, seperti dicontohkan dengan hutan itu mempunyai keanekaragaman yang tinggi itu stabil. Tetapi ada juga ahli yang berpendapat sebaliknya, bahwa keanekaragaman tidak selalu berarti stabilitas. Kedua pendapat ini ditopang oleh argumen-argumne ekologi yang masuk akal, masing-masing ada benarnya dan ada kelemahannya (Rososoedarmo, 1990).
Dalam suatu ekosistem, dapat senantiasa terjadi fluktuasi atau grafik naik turunnya secara teratur. Hal ini dapat terjadi karena adanya saling kontrol terhadap populasi konsumen biotik dalam suatu ekositem tersebut. Proses itu akan terus berjalan secara berkesinambungan dan tanpa menimbulkan goncangan ekosistem. Hal ini akan terjadi selama lingkungan tersebut berada dalam keadaan seimbang (Wolf, 1992).
Pada habitat alami seperti hutan, kerusakan karena faktor serangga herbivor sangat jarang terjadi. Hal ini mungkin disebabkan karena di dalam habitat hutan jumlah serangga karnivor lebih banyak dan keragaman jenis serangga juga jauh lebih tinggi dan kompleks dibandingkan agroekosistem (Janzen 1987). Pada lahan pertanian, adanya praktek pertanian memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap keanekaragaman serangga (Odum, 1993).
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (mega biodiversity). Hal ini disebabkan karena Indonesia terletak di kawasan tropik yang mempunyai iklim yang stabil dan secara geografi adalah negara kepulauan yang terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia. Salah satu keanekaragaman hayati yang dapat dibanggakan Indonesia adalah serangga, dengan jumlah 250.000 jenis atau sekitar 15% dari jumlah jenis biota utama yang diketahui di Indonesia (Odum, 1993).
Dalam suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, beberapa diantaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota lain dari komunitas itu. Suatu interaksi dapat terdiri atas beberapa bentuk yang berasal dari hubungan pisitif (berguna) sampai interaksi negative (berbahaya). Bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara anggota spesies yang sama (intraspesifik). Perbandingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Dalam hubungan persaingan antara dua spesies, ini dapat merupakan bentuk eksploitasi makanan yang tersedia dalam waktu singkat, atau merupakan gangguan bilamana organisme-organisme itu saling melukai dalam usahanya untuk mendapatkan makanan (Wolf, 1992).
Keanekaragaman hayati tumbuh dan berkembang dari keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetis, dan keanekaragaman ekosistem. Karena ketiga  keanekaragaman ini saling kait-mengkait dan tidak terpisahkan, maka dipandang sebagai satu keseluruhan (totalitas) yaitu keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat jenis dan tingkat ekosistem (Wolf, 1992).
Manusia dalam mengenal adanya keanekaragaman makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dapat diamati dan juga mungkin tingkah laku, penampilannya, makanannya dan cara perkembangbiakannya, habitatnya serta  interaksinya dengan makhluk lain. Pada tumbuhan yang dapat diamati misalnya tempat tumbuhnya, batangnya, daunnya, bunganya, serangga yang mengunjunginya serta burung yang bersarang di dalamnya. Setiap populasi mempunyai sifat genetik tertentu. Individu-individu sejenis ini mempunyai kerangka dasar komponen genetis yang sama (kromosomnya sama tetapi memiliki komponen faktor keturunan yang berbeda). Misal (Anonim, 2011) :
rasa manis dan asam pada mangga
warna kuning, merah dan putih pada biji jagung
Keanekaragaman gen menentukan keanekaragaman jenis individu, meski jenisnya sama tetapi memiliki gen yang tidak sama bila dibandingkan dengan individu lain dalam kelompok tersebut. Keaneka ragaman genetik merupakan keanekaragaman sifat yang terdapat dalam satu jenis. Dengan demikian tidak ada satu makhlukpun yang sama persis dalam penampakannya. Tanaman dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membantuk kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungannya yang memnuhi kebutuhan hidupnya. (Wolf, 1992).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Keanekaragaman Jenis. www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 23 April 2011 pukul 20.00 WITA.
Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi. CV Rajawali. Jakarta.
Odum, Eugene. 1993. Dasar-dasar Ekolog. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Jakarta.
Umar, M. Ruslan. 2009. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Laboratorium Ilmu Lingkungan Kelautan. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Wolf, L. 1992. Ekologi Umum.  Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.










BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
            Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah alat tulis menulis, buku penuntun dengan ukuran (21,59 cm x 27,94 cm).
III.2 Bahan
            Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah hewan disekitar areal pengamatan sebagai objek penelitian seperti semut, belalang, dan serangga kecil lainnya, dan tali rafia.
III.3 Cara Kerja
            Cara kerja dari percobaan ini adalah :
A.    Metode Plot Acak
1.      Dipilih suatu komunitas atau areal komunitas yang akan diamati, kemudian dipilih tempat yang berada sebagai titik awal pengamatan.
2.      Ditentukan ukuran petak/buku penuntun praktikum Ekologi Umum dengan ukuran (21,59 cm x 27,94 cm) kemudian petak/buku penuntun disebar dalam areal pengamatan secara acak.
3.      Disetiap petak/buku penuntun dihitung jumlah organisme dan jenisnya (hewan).
4.      Dicatat data yang diperoleh per petak/buku penuntun di buku tulis.
5.      Dilakukan pengamatan kembali sebanyak 10 kali di tempat berbeda, dan selanjutnya dilakukan perhitungan di Laboratorium.

B.     Metode Plot Beraturan (Sitematis)
1.      Dipilih suatu komunitas atau areal komunitas yang akan diamati, kemudian dipilih tempat yang berbeda sebagai titik awal pengamatan.
2.      Ditentukan ukuran petak/buku penuntun praktikum Ekologi Umum dengan ukuran (21,59 cm x 27,94 cm) kemudian petak/buku penuntun disebar dalam areal pengamatan secara sistematis.
3.      Disetiap petak/buku penuntun dihitung jumlah organisme dan jenisnya (hewan).
4.      Dicatat data yang diperoleh per petak/buku penuntun di buku tulis.
5.      Dilakukan pengamatan kembali sebanyak 10 kali ditempat berbeda, dan selanjutnya dilakukan perhitungan di Laboratorium.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1.1 Tabel pengamatan untuk plot acak
Plot
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
 Q
N/plot
1
2
1
2
23


1





1




30
2



9






3



2


14
3



1
33
15

1



2
5




57
4



6

14
2


1





9

32
5



33
5
3


6








47
6


1
7
30








73



111
7




16












16
8

9












1

2
12
9
5
1















6
10


5














5
Σni
7
11
8
79
84
32
3
1
6
1
3
2
6
73
3
9
2
330

Keterangan :
A         : Mengkudu
B         : Pohon Tanjung
C         : Ketapang
D         : Rumput Gajah
E          : Rumput Liar
F          : Rumput Teki
G         : Kelor
H         : Sirsak

IV.1.2 Tabel pengamatan untuk metode line transek
plot
SPESIMEN
ΣN/plot
A
B
C
D
E
F
G
1
7


2



9
2
10


1
2


13
3
70
4
3


1
2
80
Σni
87
4
3
3
2
1
2
102

Keterangan :
A         : Rumput gajah           
B         : Putri malu                 
C         : Rumput liar
D         : A
E          : B
F          : C
G         : Kelor
IV.2 Analisis Data
A.    Metode acak
·         Indeks Simpson
-          Untuk mengetahui dominansi jenis suatu komunitas dapat digunakan rumus sebagai berikut :
=
= Indeks Dominansi
nᵢ = Jumlah Individu spesies I
N  = Jumlah total individu
A =  =  = 0,0003
B =  =  =  0,001
C =  =  =  0,0005
D =  =  =  0,056
E =  =  = 0,064
F =  =  =  0,009
G =  =  = 0,00005
H =  =  = 0
I =  =  = 0,0002
J =  =  = 0
K =  =  = 0,00005
L =  =  = 0,00001
M =  =  = 0,0002
N =  =  = 0,048
O =  =  = 0,0001
P =  =  = 0,0006
Q =  =  = 0,00001
= 0,0003 + 0,001 + 0,0005 + 0,056 + 0,064 + 0,009 + 0,00005 + 0 + 0,0002 + 0 + 0,00005 + 0,00001 + 0,0002 + 0,048 + 0,0001 + 0,0006 + 0,00001
        = 0,18002

-          Untuk menghitung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dapat dilakukan dengan rumus Simpson sebagai berikut :
Ds = 1-   atau Ds = 1 -
Ds A = 1-  = 1 – 0,0003 = 0,9997
Ds B = 1-  = 1 – 0,001 = 0,999
Ds C = 1-  = 1 – 0,0005 = 0,9995
Ds D = 1-  = 1- 0,056 = 0,944
Ds E = 1-  = 1 – 0,064 = 0,936
Ds F = 1-  = 1 – 0,009  = 0,991
Ds G = 1-  = 1 – 0,00005 = 0,99995
Ds H = 1-  = 1 – 0 = 1
Ds I = 1-  = 1 – 0,0002 = 0,9998
Ds J = 1-  = 1 – 0 = 1
Ds K = 1-  = 1 – 0,00005 = 0,99995
Ds L = 1-  = 1 – 0,00001 = 0,99999
Ds M = 1-  = 1 – 0,0002 = 0,9998
Ds N = 1-  = 1 – 0,048 = 0,952
Ds O = 1-  = 1 – 0,0001 = 0,9999
Ds P = 1-  = 1 – 0,0006 = 0,9994
Ds FQ = 1-  = 1 – 0,00001 = 0,99999

Ds  = 1 – 16,81998 = -15,81998
·         Indeks Shannon-Weiner
Cara lain untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis dalam komunitas yaitu dengan menggunakan rumus Shannon-Weiner :
H = -∑ Pi log Pi atau H = -∑ nᵢ/N log nᵢ/N
HA = -∑ Pi log Pi  = - 0,021 log 0,021    = 0,035
HB = -∑ Pi log Pi  = - 0,03 log 0,03     = 0,045
HC = -∑ Pi log Pi  = - 0,024 log 0,024 = 0,014
HD = -∑ Pi log Pi  = - 0,239 log 0,239  = 0,148
HE = -∑ Pi log Pi  = - 0,254 log 0,254 = 0,151
HF = -∑ Pi log Pi  = - 0,096 log 0,096 = 0,096
HG = -∑ Pi log Pi  = - 0,009 log 0,009 = 0,018
HH = -∑ Pi log Pi  = - 0,003 log 0,003 = 0,007
HI = -∑ Pi log Pi  = - 0,018 log 0,018 = 0,031
HJ = -∑ Pi log Pi  = - 0,003 log 0,003 = 0,007
HK = -∑ Pi log Pi  = - 0,009 log 0,009 = 0,018
HL = -∑ Pi log Pi  = - 0,006 log 0,006 = 0,013
HM = -∑ Pi log Pi  = - 0,018 log 0,018 = 0,031
HN = -∑ Pi log Pi  = - 0,221 log 0,221 = 0,144
HO = -∑ Pi log Pi  = - 0,009 log 0.009 = 0,018
HP = -∑ Pi log Pi  = - 0,027 log 0,027 = 0,042
HQ = -∑ Pi log Pi  = - 0,006 log 0,006 = 0,013
H = -∑ Pi log Pi  =-( 0,035+0,045+0,014+0,148+0,151+0,096+0,018+0,007+ 0,031+0,007+0,018+0,013+0,031+0,144+0,018+0,042+0,013)
                               = 0,831



·         Indikator E :
0 < < 0,5     = tertekan
0,5 < < 0,75 = labil
0,75 < < 1    = stabil

B.     Metode Line transek
·         Indeks Simpson
-          Untuk mengetahui dominansi jenis suatu komunitas dapat digunakan rumus sebagai berikut :
=
= Indeks Dominansi
nᵢ = Jumlah Individu spesies I
N  = Jumlah total individu
A =  =  = 0,726
B =  =  =  0,001
C =  =  =  0,0005
D =  =  =  0,0005
E =  =  = 0,0009
F =  =  = 0
G =  =  = 0,0009
= 0,726+ 0,001+ 0,0005+ 0,0005+ 0,0009+0+0,0009 = 0,7298
-          Untuk menghitung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dapat dilakukan dengan rumus Simpson sebagai berikut :
Ds = 1-   atau Ds = 1 -
Ds A = 1-  = 1 – 0,726 = 0,274
Ds B = 1-  = 1 – 0,001 = 0,999
Ds C = 1-  = 1 – 0,0005  = 0,9995
Ds D = 1-  = 1- 0,0005 = 0,9995
Ds E = 1-  = 1 – 0,0009 = 0,9991
Ds F = 1-  = 1- 0 = 1
Ds G = 1-  = 1- 0,0009 = 0,999
  Ds    = 1 – 6,2702       = -5,2702

·         Indeks Shannon-Weiner
Cara lain untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis dalam komunitas yaitu dengan menggunakan rumus Shannon-Weiner :
H = -∑ Pi log Pi atau H = -∑ nᵢ/N log nᵢ/N
HA = -∑ Pi log Pi  = - 0,85 log 0,85    = 0,0595
HB = -∑ Pi log Pi  = - 0,039 log 0,039 = 0,054
HC = -∑ Pi log Pi  = - 0,029 log 0,029  = 0,044
HD = -∑ Pi log Pi  = - 0,029   log 0,029  = 0,044
HE = -∑ Pi log Pi  = - 0,019  log 0,019  = 0,032
HF = -∑ Pi log Pi  = - 0,009  log 0,009  = 0,018
HG = -∑ Pi log Pi  = - 0,019  log 0,019  = 0,032
H = -∑ Pi log Pi    =-(0,0595+ 0,054+ 0,044+ 0,044+ 0,032+0,018+0,032)
= 0,2395
·         Indikator E :
0 < < 0,5     = tertekan                           0,75 < < 1    = stabil
0,5 < < 0,75 = labil

IV.3 Pembahasan
Pada percobaan ini mengenai keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dilakukan pengambilan sampel dengan metode plot acak / line transek. Metode acak digunakan dua cara untuk menganalisis data atau menghitung suatu keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dengan Indeks Simpson dan Indeks Shannon-Weiner. Pada Indeks Simpson terdapat dua rumus yaitu untuk menghitung jenis dominansi dan keanekaragaman jenis dalam komunitas tersebut. Pada jenis dominansi A yaitu sebanyak 0,0003 sehingga tergolong tetekan  karena nilainya 0,0003< 0,5. Begitu halnya dengan jenis tanaman lain. Rata-rata hanya memiliki dominansi 0. Jadi semua dominansi yang ada diareal tersebut adalah  tertekan.. Untuk menghitung keanekaragaman jenis didapatkan data bahwa jenis tanaman di daerah tersebut tergolong tertekan karena berada pada 0< < 0,5 yaitu nilainya sebanyak 0,18002. Hal ini dapat dilihat karena daerah Canopy Biologi cukup tandus dan kering sehingga tidak terlalu banyak tanaman yang dapat tumbuh di areal tersebut.
Metode line transek digunakan dua cara untuk menganalisis data atau menghitung suatu keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dengan Indeks Simpson dan Indeks Shannon-Weiner. Pada Indeks Simpson terdapat dua rumus yaitu untuk menghitung jenis dominansi dan keanekaragaman jenis dalam komunitas tersebut. Pada jenis dominansi A yaitu sebanyak 0,726 sehingga tergolong labil. Pada jenis dominansi B yaitu tanaman sebanyak 0,001 sehingga tergolong tetekan. Pada jenis dominansi C yaitu sebanyak 0,0005 sehingga tergolong tetekan. Pada jenis dominansi D yaitu sebanyak 0,0005 sehingga tergolong tetekan. Pada jenis dominansi E yaitu sebanyak 0,0009 sehingga tergolong tetekan. Dan untuk jenis dominansi F adalah 0, sedangkan pada jenis dominansi G adalah 0,0009 sehingga termasuk tertekan. Hal ini terbukti dengan keadaan yang ada di Canopy Biologi bahwa tanahnya cukup tandus dan kering sehingga termasuk keadaan tertekan dan labil.
Untuk menghitung keanekaragaman jenis didapatkan data bahwa jenis tanaman di daerah tersebut tergolong labil karena berada pada 0,5 < < 0,75 yaitu nilainya sebanyak 0,7298
Nilai yang diperoleh dari Indeks Simpson tidak jauh beda dengan Indeks Shannon-Weiner sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua indeks tersebut merupakan metode kuantitatif untuk mengukur keanekaragaman jenis atau spesies dalam suatu komunitas, sedangkan indeks dominan juga untuk mengetahui dominan jenis dalam suatu komunitas dan dalam percobaan ini disuatu area rumput kecil sebagai jenis tumbuhan yang mendominasi.
BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan percobaan maka dapat disimpulkan bahwa tingkat keanekaragaman komunitas yang tinggi ditunjukkan dengan nilai dominansi yang rendah, baik dengan indeks Simpson maupun indeks Shannon-Weiner, untuk shanon-Weiner pada plot acak, keanekaragaman tinggi yaitu 0,831 dan pada line transek keanekaragaman lebih rendah yaitu 0,239, sedangkan pada metode simpson keanekaragaman pada plot acak lebih rendah (0,18002) dari line transek yaitu 0,7298.

V.2 Saran
Sebaiknya percobaan ini dilakukan pada pagi hari untuk mengurangi panas dan dilakukan tempat yang agak luas atau praktek lapangan didaerah tertentu seperti pegunungan. Khususnya untuk para asisten agar selalu mendampingi praktikkan selama praktikum.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar